Harapan

Ketika harapan muncul
Menyeruak
Menyentak
Segala yang menghalang,
Ketakutan menyertai,
Keraguan menemani
Diam.
Sesaat.

Ketika harapan lalu hilang,
Apa tersisa?
Apa tertinggal?
Selain pasrah,
dan mungkin sesal,
dan kesal.
Karena tidak berusaha,
dan takluk kepada takut,
kepada ragu.

Tolonglah.

Ku hanya tak ingin ragu.
Hanya ingin mengantar.
Sebuah harapan. Satu.
Ke tempatnya bersandar.

Sebab harapan bukan untuk tanpa alasan.
Bukan hanya untuk dirasakan.
Atau untuk disimpan.

Bukan.

Tolonglah.

Aku hanya ingin mengantar harapan.
Lalu, kulihat jarum jam berpindah angka.

Semoga.

Ada.

Harapan

Kisah Klasik Seorang Pawang Cinta

Aku lihat dia berdiri di sana. Dengan muka yang sinarnya memudar, dia seperti mengundangku untuk menghampirinya, tapi apakah iya harus aku dekati? Aku sudah terlalu sering mengalami sakit hati. Menaruh harapan pada orang-orang yang pada akhirnya meninggalkanku atau tidak pernah percaya kepadaku. Rasanya aku terlalu lelah dan aku bisa-bisa hancur kalau kali ini berakhir demikian juga.

Empat bulan yang lalu aku masih berjalan bersama dia, seseorang yang dulu amat kucinta dan sungguh-sungguh kujaga, tapi suatu waktu aku terjatuh oleh sebuah ucapannya, lalu dia berkata bahwa dia tidak bisa membantuku berdiri lagi. Begitulah lalu kulihat dia berjalan meninggalkan aku yang sedang berusaha berdiri untuk kembali mengejar dia. Belum sempat kukejar, dia sudah hilang dari pandanganku. Entah ke mana.

Dalam hancurku, aku akhirnya mampu kembali berdiri dan berjalan. Berjalan aku tak tahu harus ke mana, tapi aku tahu aku harus berjalan. Aku tidak bisa tetap di situ. Perjalanan sudah tidak menyenangkan lagi, maka aku harus beranjak menemukan tempatku berteduh. Aku haus dan aku harus terus berjalan, begitu pikirku.

Setelah berjalan cukup lama, di kejauhan aku melihat seseorang yang berjalan dengan letihnya juga. Mataku berbinar-binar, aku ingin kejar. Maka, kukejarlah dia. Kupanggil-panggil dia, dan dia menoleh. Kami lalu bertukar cerita, perjalanan ini menjadi tidak sepi lagi. Aku bisa tersenyum lagi. Lalu, mulai kuajak dia untuk berjalan lebih cepat. Aku ingin kita lari ke depan sana, tampaknya melihat sunset di pantai sana pastilah indah. Sebelum sunset tiba, sungguh kuingin cepat sampai di sana karena aku merasa sudah terlalu lama aku di jalan ini. Tapi dia seperti ragu. Baginya, sunset itu belum sebanding dengan sunrise yang pagi ini dia lihat di tempat dia sebelumnya berada. Dia masih mengingankan melihat sunrise itu walaupun kami sama-sama tahu bahwa sunrise sudah lewat, dia sudah hilang, dan tak akan kembali sampai waktu yang lama.

Terik matahari makin terasa menjelang tengah hari. Tapi perjalanan kami menjadi nyaman, setidaknya demikian kurasa karena setidaknya aku mempunyai teman ngobrol. Detik-detik, menit-menit, dan lalu 1 jam pun berlalu. Kami semakin dekat, tapi aku tahu kami tak mempunyai tujuan yang sama. Aku ingin melihat sunset itu, dia masih berpikir bahwa sunrise tidak akan tergantikan keindahannya oleh sang sunset.

Aku mulai letih karena dalam hatiku, aku ingin sekali melihat sunset. Aku harus melihatnya. Aku ingin perjalananku ini ditutup dengan sesuatu yang memberikanku ketenangan, setidaknya sebelum malam akhirnya tiba nanti. Aku mulai letih, aku ingin melihat sunset. Maka, pada suatu titik aku memutuskan untuk mempercepat langkahku. Seandainya saja dia berkata, “Tunggu aku,” tentu saja aku akan menunggu, tapi aku tidak melihat sebuah kegusaran pada dirinya. Dalam hatinya, aku tahu dia tetap merindukan sunrise. Jadi, aku pergi. Aku berjalan lebih cepat.

Menit-menit berlalu, jam-jam berlalu. Sunset sudah semakin dekat, tapi aku bahkan baru tersadar bahwa aku sama sekali tidak tahu jalan menuju pantai. Aku buta. Aku hilang arah. Hampir hilang asaku hingga di suatu perempatan jalan aku bertemu dengan kamu. Ya, kamu.

—————

Hampir setengah tahun aku kehilangan dirinya. Dan malam ini lagi-lagi aku hanya berusaha untuk melewati satu malam lagi. Setidaknya, esok pagi aku bisa melihat hari bersinar cerah lagi dan aku bisa melupakan semua kegelisahanku. Di sini lah aku, dengan sinar wajahku yang sepertinya memudar. Akankah ada seseorang yang akan menyadarinya? Ah, tidak akan, pikirku, jangan berkhayal.

Ketika aku terjatuh di perjalanan kemarin, aku hanya ingin bangkit lagi. Tapi, memang rasanya sakit sekali dibiarkan terjatuh, tidak ditolong untuk bangkit, malahan ditinggalkan. Bagaimanapun, aku orang yang tegar. Aku kuat. Aku kuat. Aku berjalan dan berjalan. Melanjutkan perjalananku dengan kedua kakiku yang aku yakin, kuat. Tidak terasa ketika aku mendekati sang siang, aku pun haus dan letih. Hampir aku menyerah, sampai aku melihat seseorang yang sedang berjalan di depanku. Kuberanikan diriku bertanya, “Mau ke mana?”

Jawabnya, “Aku sebenarnya tidak tahu mau ke mana. Aku hanya berusaha terus berjalan.” Ah, pikirku, aku pun demikian. Aku hanya ingin berjalan dan semoga di depan sana ada sebuah tempat peristirahatan di mana aku bisa berteduh dan bertukar cerita dengan seseorang. “Boleh aku menemani?” tanyaku. Dia pun mengangguk.

Kami lalu bersenda-gurau. Aku bisa tertawa lagi dan aku merasakan sesuatu yang sedari pagi tidak kurasakan: kesejukan. Padahal matahari bersinar percaya diri siang ini, tapi aku merasa tidak apa-apa. Lalu, kukatakan padanya, “Mari kita cari kedai untuk sekedar kita duduk-duduk dan bercerita.” Dia mengangguk. Sepertinya dia hanya iya-iya saja, tidak kurasakan binar-binar semangat di dalam matanya. Tapi, tak apa, toh dia tidak menolak juga kan. Aku orang yang optimis dan aku yakin dengan semangatku ini bahwa setiap orang itu baik dan selayaknya aku perlakukan setiap orang demikian. Setiap orang baik. Setiap orang baik.

Namun, hati memang sedalam samudera. Dalamnya tidak ada yang tahu. Kerinduannya tidak ada yang mengerti. Maka, setiap kali aku meledak-ledak dalam semangat dan harapanku untuk menemukan tempat beristirahat di depan sana dan dia hanya mengangguk, hati ini mulailah retak. Lama-lama, pikirku, ke mana semangatmu, Bung? Apakah ini semua hanya keinginanku saja, dan bukan keinginanmu juga? Aku mulai merasa kami tidak sepadan dan tidak sejalan. Yang pasti, kami memang tidak seirama. Dentuman langkah kami berbeda dan aku tidak sanggup lagi berjalan perlahan-lahan seperti ini. Aku haus, aku ingin istirahat. Aku butuh tempat berteduh. Aku butuh tempat berteduh.

Maka, mulailah kutinggalkan dia sedikit-sedikit. Kupercepat langkahku. Setelah beberapa lama, masih bisa kulihat dia di belakang, namun sosok dirinya makin mengecil dalam pandanganku. Aku terus berjalan sambil memandanginya menjauh. Aku terus berjalan sambil melihatnya menghilang di ujung sana. Aku lalu menoleh ke depan lagi ketika tiba-tiba aku hampir bertabrakan dengan kamu. Ya, kamu.

“Hai, kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu sedang memikirkan banyak hal. Mau cerita?” demikian sapaanmu. “Jangan di sini ya? Lebih enak kalau sambil jalan ke depan.” jawabku. Kamu pun berkata, “Ayo!” Hei, siapa ini, tampaknya bersemangat sekali. Aku pun tersenyum.

—————

Hari menjelang sore, sunset semakin dekat, tempat peristirahatan tak kunjung terlihat, tapi mereka tetap berjalan bersama. Mereka tertawa dan tertawa dan tertawa. Tak terasa, sore pun terlewati. Pantai tidak ketemu dan belum satu pun tempat istirahat dijumpai. Tapi, mereka tetap tertawa dan tertawa dan tertawa. Padahal, sudah kudatangkan malam yang gelap kali ini.

“Hei, coba kau tunjuk satu bintang,” ujar salah seorang. Yang lain berkata, “Sebagai pedoman langkah kita?” Mereka lalu tersenyum. Malam itu gelap dan dingin karena aku menginginkannya demikian, tapi mereka tidak peduli. Mereka sudah tertawa terlalu banyak. Kegelapan dan rasa dingin bukan lagi masalah. Yang mereka rasakan malam itu adalah misteri ketika mereka pandangi langit hitam yang luas terbentang di atas mereka. Misteri mengapa mereka bertemu.

Sesungguhnya, mereka tahu, tapi aku akan selalu memberikan pertanyaan itu di benak mereka. Bukan untuk mereka pertanyakan, tapi untuk mereka ingat berulang-ulang bahwa jawaban dari mengapa itu tidak penting. Yang penting adalah mereka bahagia.

Tapi, bolehkah kuberitahukan sedikit rahasiaku mengapa mereka bertemu? Tentunya alasan pertama adalah karena mereka sepadan dan sama-sama ingin berjuang. Mereka sering berdoa kepadaku dan meminta dipertemukan dengan seseorang yang bisa memahami semangat dan optimisme mereka. Aku rasa, tidak ada orang yang lebih pantas untuk kupertemukan dengan mereka selain mereka sendiri.

Tapi, alasan utamaku adalah karena aku yakin bahwa ini akan membuat keduanya bahagia. Inilah kisah klasikku. Ah, aku mencintai pekerjaanku.

Kisah Klasik Seorang Pawang Cinta

My version of happyness.

Gak, gak typo kok. Kan mau sok-sokan kayak judul film, jadi nulisnya happyness. :))

My version of happyness.. sebelum kita sampai ke konklusi itu, saya pengen cerita-cerita deh sedikit. Jadi saya ini orang yang dibilang ambisius, ya lumayan, dibilang terlalu pemalas juga iya banget. Intinya, saya punya banyak cita-cita ini-itu, tapi saya pada dasarnya memang orangnya terlalu pemalas dan terlalu laid-back. Tipikal seorang Taurus banget deh. Kadang saya ingin mempunyai ini-itu yang orang lain punya, yang mana ini-itu tersebut rasa-rasanya sih hanya bisa dicapai bila saya sukses atau setidaknya sesukses orang itu. Sukses dalam bentuk apa? Ya, tentunya sukses secara finansial dong.

But, then again, menurut saya, sukses itu macam-macam. Sukses berumah-tangga juga sukses walaupun mungkin rumah tangganya hanya sekedar berkecukupan tanpa berkelebihan. Sukses membuktikan teori-teori tertentu juga sukses walaupun mungkin tidak menghasilkan uang sebagaimana misalnya sebuah bisnis. Berhasil menikmati hidup apa adanya juga sukses, yaitu kesuksesan memuaskan diri sendiri tanpa perlu too many efforts. Maksudnya sih, definisi sukses tiap orang beda-beda sih.

Lalu, saya jadi kembali ke suatu waktu di mana saya berpikir tentang sukses semacam apa yang saya cari. Saya orangnya kadang gak tahu apa yang saya mau sampai sesuatu itu ada di depan saya dan tiba-tiba saya tahu, saya mau itu. Begitu. Tapi satu hal yang saya tahu sih, saya orangnya cinta sekali kestabilan. Tipikal Taurus lagi kan, kan. Kalau bisa pilih, saya tidak menyukai melakukan perubahan walaupun saya tidak sekeras hati itu juga sih karena saya orangnya optimistis dan saya tidak takut berubah kalau memang saya merasa optimis dengan perubahan itu. Perubahan itu perlu, tapi ketika saya sudah berada di zona yang teramat nyaman untuk saya dan saya bahagia (tolong garis bawahi “bahagia”), saya rasa saya tidak memerlukan lagi perubahan apa-apa.

Saya orangnya rumit dalam berkonsep, tapi praktis dalam memutuskan sesuatu. Walaupun saya sering tidak tahu apa yang saya mau, saya seringnya tahu satu-dua hal yang saya selalu inginkan: menemukan teman hidup yang compatible luar dalam dengan saya, berkomitmen dengannya dan menjaga komitmen itu, membangun suatu rumah tangga (atau apa pun sebutannya lah karena rumah tangga bagi saya kan tidak akan sesimpel rumah tangga bagi banyak orang), menjadikan setiap momen kebersamaan berarti.

Saya tumbuh besar tanpa seorang ayah, tanpa seorang kakak, dan tanpa seorang adik pun juga. Hanya ada mami saya dan saya. Dan kami tidak terlalu dekat karena perbedaan umur kami yang begitu jauh dan itu menyebabkan banyak miskomunikasi dan kesulitan untuk saling mengerti keinginan dan harapan masing-masing. Saya menghabiskan lebih dari setengah hidup saya hidup kesepian. Saya orangnya sering aloof (saya malas cari padanan katanya di bahasa Indonesia). Saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam masa kecil saya, yaitu seseorang yang saya merasa very connected in so many levels. Tapi saya tidak menyerah, saya optimis kok saya akan menemukan seseorang yang bisa membayar lunas semua itu semudah hitungan satu-dua-tiga. Saya optimis kehidupan saya akan bahagia selama saya tetap berjalan dalam jalur yang saya sudah tetapkan untuk saya jalani sebelumnya.

Godaan banyak di mana-mana. Cemoohan pun di mana-mana. Dorongan orang lain supaya saya lebih gesit, lebih ambisius, dan lain-lain pun.. ya itu di mana-mana. :)) Mereka bilang, mereka cuma ingin saya bahagia. Tapi mereka sepertinya lupa kalau saya sudah merasa cukup dengan hidup saya kok. Saya orangnya lumayan spiritual jadi selama kepuasan batin saya tercukupi, untuk saya itu cukup. Tentu saya bisa berusaha lebih kok kalau mau dan kalau perlu, tapi entah kenapa saya yang pada dasarnya pemalas dan laid-back, saya lebih suka untuk tidak melakukannya sekarang. Saya memang keras kepala sih. Tipikal Taurus lagi ya. Haha. Ya sebenarnya bukan saya tidak pernah memikirkan perkataan dan nasihat-nasihat orang di sekitar saya sama sekali, tapi saya merasa hanya sayalah yang paling mengerti kebahagiaan seperti apa kah yang sungguh versi saya.

Kalau ditanya, apa sih yang kurang dari hidup saya, saya pasti jawabnya: teman hidup. Itu kok yang kurang. Bukan kesejahteraan hidup saya. Life’s good, and sure, life can be better when I can afford more. True. But, if I have a life partner, my life will not only be better, it’ll be perfect. Jadi demikianlah misi saya mencari cinta itu dimulai. Setelah belasan tahun, saya merasa saya sudah hampir berada di garis finishnya sih. Mengapa? Ya karena beberapa kejadian akhir-akhir ini. Perlukah saya ceritakan? Mungkin di lain waktu ya karena sekarang semuanya sungguh masih too early to tell.. Let’s not be unwise. 🙂

Saya optimis bahwa saya pasti akan bahagia karena saya sudah tahu apa kebahagiaan saya. Kebahagiaan saya adalah bangun pagi di samping seseorang yang saya cintai dan mencintai saya, hidup bersama dengan dia, menularkan kebahagiaan kami kepada orang-orang di sekitar kami yang less fortunate. Itulah kebahagiaan saya: to love and to be loved.

Keliatan standar banget ya? Sebenarnya saya gak bilang saya orang yang se-boring itu kok. I am weird and naturally I love surprises (in life). I root for surprises. Saya menyukai keliling dunia, tapi apa indahnya keliling dunia jika kita belum menemukan seseorang untuk kita ajak bersama-sama keliling dunia? Bukankah first things first? Jika selanjutnya terdapat peningkatan kualitas dan kenyamanan hidup, dan kesempatan-kesempatan lainnya, dan berbagai perubahan positif lainnya yang kemungkinannya tak terbatas, itu semua adalah sungguh bonus. Di sini mungkin akan ada yang mendebat, ya siapa tahu dengan keliling dunia, bisa ketemu sama jodohnya. Iya, iya, bisa kok, bisa. 😀

Tapi, ya pada intinya, jika suatu hari the universe benar-benar memberikan hadiah terindah tersebut kepada saya, tidak akan sekali-sekali saya menukarnya dengan hal lain.

Dan tahukah kamu? The universe is good. It doesn’t sleep. And it will answer. Soon.

the happiness of your life depends upon the quality of your thoughts copy

 

My version of happyness.

Peluklah Aku Sebab Aku Mulai Mencintaimu

Sebuah buku boleh kelihatan usang, tapi isinya bisa saja tidak usang. Aku seakan-akan sedang mengunjungi lagi masa laluku seiring dibukanya halaman-halaman kekuningan itu. Bau kertas-kertas tua menyelinap ke penciumanku. Bau yang seperti menyibakkan rahasia puluhan tahun. Mungkin tidak selama itu, tapi rasanya selama itu.

Kata-kata yang baru dibaca dalam benak telah menguakkan kembali ingatan masa lalu yang sebenarnya sudah amat dalam terkubur dalam tengiknya tanah. Sebuah kesalahan yang menjadikan aku seperti aku sekarang. Sebuah rasa yang mendalam, sakit hati dan kegetiran hidup. Perasaan sebagai orang yang terbuang dan tidak mempunyai cinta atau bahkan jika hanya untuk menjalani hidup dengan bahagia. Sakit hati yang sampai tadi belum ada obatnya. Mencekam, mengambil hampir seluruh kebahagiaan diriku. Itulah terakhir kali aku bersama dengan masa laluku.

Pengalaman sekali dengan seseorang yang dulu amat kucintai. Kehadirannya seperti pesona bunga teratai di tengah-tengah kolam. Memberikan sepercik sinar-sinar harapan kepada duniaku yang kering. Seseorang yang menjadikanku bahagia apa adanya diriku.

Satu hari dia pergi. Menghancurkan mata kalung hubungan yang telah kami jalin. Semuanya porak poranda. Hari itu seperti hari yang penuh hujan deras, petir-petir menyambar, dan aku basah di tengah derasnya tetes-tetes hujan itu. Saat kau berada di titik terendah dalam hidupmu. Saat kekecewaan menjadi kolam renangmu. Saat amarah dan tangisan mengalir dari hulu jiwamu. Kecewa, terkhianati, dan sendiri. Saat kau ingin sekali bunuh diri.

Begitulah. Dia pergi, meninggalkan setengah cinta dan setengah benci. Meninggalkan setengah kenangan dan setengah dendam. Tidak demi satu pun alasan. Pahit hati yang bertahun-tahun membekas, bertahun-tahun pula tidak pernah pudar walaupun sering kubilas dengan air mata kekecewaan. Sejak saat itu, aku tidak percaya cinta sejati. Bagiku, setiap hubungan tidak lebih daripada seks dan permainan. Begitulah aku menjadi seperti apa aku sekarang.

Tapi, bukankah ada saatnya juga kau menyerah oleh karena cinta? Bukankah memang ada saatnya cinta mencuri tempat di hatimu? Bukankah memang ada saat-saatnya kau merasakan mana sejati dan mana yang palsu? Bukankah akhirnya kau rindu juga hidup berdua? Bukankah kau akan merasa membutuhkan; membutuhkan dia: sang pujaan hati. Dan beribu “bukankah” lainnya yang akan menuntunmu membuka pintu hati.

Itulah keindahan yang terasa ketika benar-benar jatuh cinta. Keelokan dari sebuah jumpa pertama. Bukankah memang ada saatnya kau merasakan semua itu: deja vu?

Begitulah. Hati ini lalu menjadi berat. Raga menjadi begitu lemah. Jiwa besarku ingin bangkit, tapi masih terhimpit egoisme pribadi yang begitu berat. Dan segala ketakutan membuat segalanya menjadi semakin tidak sederhana. Ini rumit. Sungguh rumit.

 

Tantra… demi malaikat-malaikat penjaga surga, jawablah, kenapa kamu menemui aku?

 

Semuanya terjadi begitu sederhana. Aku dan dia; kami bertemu. Semudah itu. Kadang pertemuan memang tidak membutuhkan ornamen yang indah-indah untuk melengkapinya. Kadang kamu cuma perlu membiarkan semesta bertindak. Bebaskan segalanya, biarkan semesta menari dan melukis di kanvasnya. Pertemuan singkat atau pun panjang, bagaimanapun itu terjadi, pertemuan adalah pertemuan. Dan seperti halnya tidak semua pertemuan luar biasa berlanjut luar biasa, demikian juga pertemuan-pertemuan biasa tidak selalu berlanjut biasa-biasa saja.

 

Hatiku terombang-ambing, Tantra. Hatiku menjerit. Dia ingin memeluk raga dan hatimu. Menjadikan perasaanmu sepadan dengan perasaanku. Menempelkan dua dimensi kehidupan kita yang berbeda. Meleburkan hasrat dan cita-cita aku dan kamu. Menjadi satu. Satu.

 

Tantra, peluklah aku terus sebab aku mulai mencintai kamu.

Peluklah Aku Sebab Aku Mulai Mencintaimu

Coincidence?

Beberapa bulan lalu, saya dikenalkan dengan lagu Sepatu-nya Tulus untuk pertama kali oleh seseorang (ehem). Instant like! Lagunya ringan, melodinya ngalir, liriknya pedih sih, yang mana memberikan ironi yang teramat dalam bagi siapa pun yang menyanyikannya. #halah

Singkat cerita, saya jadi nyanyi-nyanyi Sepatu terus, apalagi ternyata range-nya Tulus itu mirip-mirip range vokal saya jadinya enak lah nyanyinya ga perlu teriak-teriak kayak pas nyanyi lagunya Afgan misalnya. :p Pokoknya saya jadi suka banget lagu ini dan saya merasa relate dengan kesedihan yang terpancar dari lirik dan melodinya. Iya, sedih, lho! Ironis soalnya. Tapi baiklah, kita lupakan dulu soal Sepatu ini ya. Saya janji di akhir cerita ada hubungannya kok.

Nah, lalu kamu tahu kan saat di mana kamu tertarik dengan seseorang, tapi kamu waiting for the “click moment” yang bener-bener bikin kamu dalam hitungan detik, dari yang tadinya hanya sekedar tertarik dan nyaman, akhirnya menjadi “Wow, I got to know him more.” Dari yang tadinya “berbenteng” menjadi tidak “berbenteng” karena bentengnya runtuh dalam hitungan detik. Pernah kan ngalamin momen kayak begitu?

Saya sih pernah beberapa kali, tapi yang dulu-dulu saya lupa, lho! :)) Saya cuma ingat dua kejadian terakhir. Yang pertama adalah ketika seseorang, sebut saja A, akhirnya membuka diri tentang mantannya dan terdengar seperti lagi nangis. Itu “click moment” yang sungguh instan. Sejak saat itu, saya merasa saya peduli dengan dia dan saya ingin jagain dia. Saat itu benteng saya runtuh dan perasaan saya terbang lepas tidak bisa dikontrol lagi.

Lalu, yang kedua dan yang barusan aja sih, ketika saya melihat rekaman seseorang, sebut saja B, sedang main gitar sambil nyanyi Sepatu (nah ada hubungannya kan sama Sepatu). Hakhakhak. Orangnya baca ga ya ini? Pasti baca sih. #pasrahajadeh Nah, itu “click moment” yang ga kalah instan dari yang sebelumnya. Saya langsung terbuai, lho. Sampai sekarang pun masih. Hehe. Benteng yang tadinya ada untuk menjaga kesetiaan perasaan saya terhadap si A, sekarang runtuh. Intinya saat ini saya benar-benar vulnerable, pake kuadrat pula.

(Tapi masih sempet senyum-senyum)

Saya lalu pikir-pikir, rasa-rasanya saya gak mungkin akan ngalamin “click moment” yang kedua kalau dua bulan sebelumnya saya gak diperkenalkan dengan lagu Sepatu. Bener ga? Logikanya kan.. mana bisa ngalamin click moment kalau lagunya aja kita gak kenal ya! Wait.. lucunya sih, yang kasih kenal saya dengan lagu Sepatu itu tidak lain adalah si A sendiri.

Life has a funny way, doesn’t it?

Coincidence?