Tempat Favorit Kedua

Note: Ini adalah fan fict dari The Coffee Shop Chronicles terbitan ByPASS. Saya suka banget bukunya karena kesederhanaan idenya dan isi ceritanya. Saya memang selalu suka dengan cerita-cerita sederhana tentang cinta dan perasaan, dan saya membayangkan seseorang yang sangat saya sayang ketika membaca buku ini. Kesederhanaan ceritanya dan latar yang terbatas justru membuat saya benar-benar bisa membayangkan isi coffee shop ini dari berbagai sudut ruang dan sudut pandang. Lalu, dengan segala macam imajinajis liar yang sulit dikekang, hadirlah cerita baru dalam otak saya, dari sudut pandang saya! Haha. Selamat menikmati!

13648787

Tempat Favorit Kedua

Sebenarnya aku bukan penggemar kopi. Tapi hujan di luar cukup deras sehingga aku memutuskan untuk berteduh saja di kedai kopi ini. Untungnya, kedai ini kini sepi. Mataku langsung tertuju kepada seorang wanita berwajah etnik yang sedang berbincang dengan seorang wanita tua. Di kakinya tersandar bakul yang penuh dengan toples-toples berisi ramuan kopi. Mungkin ibu itu penjual kopi tubruk, pikirku.

This is quite funny though. Sebenarnya, aku pun tidak tahu apa yang begitu lucu dari keadaan ini. Mungkin perasaanku memang sedang bergejolak dan susah dijelaskan. Mungkin karena ini kedua kali aku berkunjung ke tempat ini. Ya, segala hal, apa pun itu, bisa tiba-tiba terlihat lucu, menarik, atau pun menyebalkan. Mataku kembali tertuju pada si mbah penjual kopi tubruk. Aku selalu teringat oma dan mamiku setiap kali melihat wanita tua. Hatiku gampang sekali tersentuh oleh orang tua, terutama mereka yang di usianya yang telah lanjut, dalam keadaan tubuh yang sudah tidak prima lagi, tapi masih harus menjalani hidup ekstra keras. Ini tidak adil. Tidak pernah adil.

Aku lalu mendekati kasir supaya bisa melihat daftar menu dengan lebih jelas. Pagi tadi aku hanya memesan sepotong croissant tanpa memesan minuman apa pun. Kini aku benar-benar bingung dan tidak mengerti harus memesan apa, sampai aku melihat di suatu baris menu minuman: “teh tarik”.. Ah! Ya! Teh tarik! Serta merta aku dengan yakin berkata kepada mbak penjaga kasir yang kelihatannya sedang lelah, namun tiba-tiba tersenyum ketika terdengar bunyi pesan di ponselnya, “Teh tariknya satu ya, mbak. Yang dingin ya.” Dia seperti bingung. Di ruangan ber-AC sedingin ini, dengan keadaan hujan di luar, seseorang masih memesan minuman dingin. Mungkin begitu kira-kira kebingungannya. Ah, tapi aku memang selalu menyukai minuman dingin. Aku bahkan sering makan es krim ketika aku flu dan batuk. Aku rasa, ketika kita sudah mencintai sesuatu, kita akan terus mencintai itu apa pun keadaannya, bukan? Dan aku benci minuman dan makanan berkuah panas. Aku benci ayam goreng yang dimakan selepas dia keluar dari wajan penggorengan. Aku suka yang hangat-hangat, tapi tidak yang panas-panas. Satu yang pasti, aku penyuka minuman dingin. Es teh adalah kombinasi terbaik.

Mataku kembali tertuju kepada si mbah. Terdengar sayup-sayup pujian dari wanita berwajah etnik ketika mencicipi kopi racikan si mbah. Oh, ternyata wanita itu adalah pemilik kedai ini! Hehe, aku tidak menyangka. Tapi, perhatianku memang tidak terpusat pada dirinya sejak awal aku masuk kedai ini lagi. Ya, lagi. Karena seperti kubilang, ini kedua kali aku ke tempat ini. Dan kesempatan pertama adalah tadi pagi, ketika tidak ada siapa-siapa, termasuk sang pemilik kedai. Makanya aku baru tahu kalau pemilik kedai ini ternyata adalah dirinya.

Sembari aku mencari tempat duduk, yang pilihannya cukup banyak untukku, tapi malah justru membuatku bingung harus duduk di mana, pikiranku melayang ke pagi tadi. Pagi tadi aku sendirian di tempat ini, di kursi yang sekarang ditempati oleh seorang pria berkaos biru tua yang sedang ketiduran di samping seorang wanita dengan rok kuning yang sedang sibuk mengetik sesuatu di sebuah laptop. Tempat mereka duduk adalah lapak terbaik di kedai ini, setidaknya menurutku. Tapi, kali ini aku terpaksa mencari tempat terbaik kedua untuk kutempati karena pilihan pertama jelas sudah diambil orang lain. Aku sebenarnya agak kecewa karena tidak bisa menempati tempat duduk mereka, tapi ada daya rasanya hujan dan rasa kecewa memang sudah menjadi teman sehari-hariku selama dua tahun belakangan. Setidaknya aku punya juara keduanya, kursi di dekat kaca depan ini. Dari sini, aku bisa memandangi trotoar di depanku yang basah oleh percikan air hujan hingga ke ujung jalan. Ini bukan yang terbaik, tapi ini sempurna.

Mataku kembali kepada pasangan yang kini menempati kursiku tadi pagi. Pagi tadi aku sendirian di kursi itu. Menunggu kamu. Tepat sudah dua tahun sejak terakhir kali kita menjalin hubungan resmi sebagai sepasang kekasih. Aku masih ingat bulan Januari itu kamu mengatakan padaku bahwa kamu menemukan orang lain yang membuatmu hatimu terbang melayang. Aku masih ingat bagaimana hatiku retak ketika mendengarnya. Aku masih ingat bagaimana hatiku lalu hancur setelahnya. Dua tahun lalu, dan aku masih ingat. Bulan-bulan berikutnya aku lalui sendiri, bertanya mengapa itu terjadi. Setelah rasa sakit yang kita alami dengan mantan-mantan kita dan setelah sebuah bulan April di mana kita dipertemukan dan dipersilakan oleh semesta untuk saling membuat tertawa sepanjang hari, setiap hari, setiap malam, aku masih tidak mengerti mengapa itu bisa berakhir. Dua tahun, dan aku tidak menemukan lagi yang seperti kamu.

Tiba-tiba aku sedih lagi. Mungkin sesedih perasaan wanita di seberang sana. Eh, tunggu, kok aku baru sadar ada wanita memakai baju pengantin di kedai ini. Sepuluh menit aku berada di sini, dan aku baru sadar sekarang. Ah, dia terlihat sedih, mungkin benar perasaannya sesedih hatiku sekarang. Sedih karena aku tidak bisa lebih lama bersamamu. Delapan bulan. Singkat, mengingat hubunganku yang sebelum-sebelumnya adalah selalu di atas 2,5 tahun. Tapi seperti kata mereka, kamu bisa berpacaran dua tahun dan tidak merasakan apa-apa, dan berpacaran dua bulan, tapi merasakan segalanya.

Aku adalah orang yang sentimental. Seumur hidupku, aku selalu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku ingin seseorang yang baik hati. Seseorang yang bisa mengimbangi sifat-sifat sentimentalku. Seseorang yang bisa bermain gitar, bisa menyanyi, dan aku bisa berdiam dengannya tanpa merasa canggung, melainkan hanya nyaman yang kurasa. Aku ingin bisa bercerita padanya tentang bagaimana aku memandang hidupku seperti sebuah jalan selayak lirik di lagu Bless The Broken Road milik Rascal Flatts, dan aku ingin dia mengerti ceritaku ketika aku bercerita mengenai itu.”

Aku menghela napas. “Tuhan, aku tidak tahu siapa dia, tidak tahu seperti apa rupanya, tapi aku tahu dia ada dan Engkau sudah persiapkan untukku. Aku tahu, aku tidak berhak mengatur kapan, tapi pertemukanlah kami segera.” Dan tidak lama, aku dan kamu dipertemukan. Kamu pernah menyanyikanku sebuah lagu, mengatakan padaku bahwa bukan aku yang mencarimu dan bukan kamu yang mencari aku. Aku pernah bertanya, untuk siapakah lagu itu, dan kamu katakan ketika itu terakhir kali, “Untuk kamu, Haykal.”

Kamu adalah jawaban doaku. Aku tidak tahu apa artinya aku. Aku selalu mengira aku adalah jawaban doamu juga, tapi jelas bukan karena kamu mengakhiri segalanya denganku. Tapi, kamu adalah jawaban doaku. Kebetulan-kebetulan itu, bagaimana hati kita bergerak bersama setiap kita nge-ping satu sama lain di instant messenger, berkali-kali. Aku tak pernah merasakan itu dengan orang lain. Apa kamu pernah? Aku yakin jawaban kamu pun tidak. Jadi, jelas hancur hatiku ketika semuanya harus berakhir. Kamu selalu bilang, syukuri karena itu pernah terjadi, tapi aku tidak pernah bisa mengerti mengapa Tuhan mempertemukan kita untuk saling mencintai jika akhirnya kita tidak lagi bisa bersama sebagai dua orang yang saling mencintai. What is the point? Mereka selalu bertanya, mengapa aku begitu sabar menunggu seseorang yang telah meninggalkanku, tapi aku sungguh tidak bisa menjawabnya. Aku menunggu bukan berarti aku sabar. Aku menunggu karena aku tidak mempunyai hal lain untuk kulakukan. Tidak ada hal lain yang hadir dan memberikan warna baru dalam perjalananku. Hanya ada sebisik suara hati yang berkata supaya aku di sini. Dia tidak berkata aku harus menunggu, namun aku memang sepertinya harus tetap berada di sini, dalam keadaanku yang seperti ini. Persimpangan-persimpangan jalan di depanku seakan memerintah bahwa jalanku harus tetap di jalan ini. Mungkin karena itu pula aku belum menemukan pengganti dirimu hingga hari ini. Tidak, aku tidak lagi menyalahkanmu. Aku yakin setiap orang berhak bahagia, demikian juga kamu. Bagiku, kamu adalah tetap kamu yang pernah mencintai aku dan memberikan aku waktu terbaik dalam hidupku. Aku hanya tidak mengerti akan permainan semesta. Teman-temanku berkata, aku akan mengerti bila waktunya tiba, namun sampailah aku pada hari ini, dua tahun kemudian, dan tetap aku belum mengerti. Oh, aku sungguh mencintai dan merindukan kamu, Farhan.

Ya, sampailah juga aku di sini, di kedai ini menunggu kamu. Tidak. Aku tidak benar-benar menunggu kamu. Aku ‘menunggu’ kamu. Menunggu kamu muncul kembali dari balik kegelapan malam. Menunggu yang hilang, menunggu yang mungkin tak mungkin kembali. Mungkin. Aku bahkan tidak tahu engkau di mana dan bagaimana sekarang. Setelah beberapa bulan semenjak hubungan kita berakhir, aku berusaha menjaga jarak darimu karena aku tidak ingin mengganggumu yang ketika itu bukan milikku lagi. Aku juga menunggu “kamu”, sang belahan jiwa yang mungkin akan kutemukan di sela-sela hujan deras yang mengguyur Yogyakarta, dan keheningan kedai kopi ini. “Kamu” yang mungkin bisa melupakan perasaanku kepada kamu. “Kamu” yang akan menekan tombol reset itu sekali lagi, dan membuat segalanya menjadi baru dan indah bagiku, sekali lagi. Entahlah “kamu” itu siapa, aku pun tidak tahu. I’m just being hopeful. You just haven’t met them yet, kata Michael Buble.

Perjalananku ke Yogya dari Bandung subuh tadi adalah caraku menenangkan hatiku yang sudah semakin lelah menunggu kamu. Mereka bilang, berjalan kaki adalah obat terbaik untuk move on karena ada terapi psikologis untuk kita yang melihat langkah kaki kita bergerak maju ke depan, meninggalkan tempat yang kita pijak sebelumnya, selangkah demi selangkah. Tiada tempat di pulau ini yang lebih nyaman untukku berjalan kaki selain kota ini. Lagipula, sudah 16 tahun sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di Yogya. Aku rasa, sekarang saatnya aku kembali ke kota ini. Aku memang mencoba apa pun asalkan aku bisa melupakan kamu. Ya, kamu, Farhan. Kucoba apa pun asalkan aku bisa menemui “kamu”. Ya, “kamu”, sang belahan jiwa.

Tiba-tiba bel kecil di atas pintu kedai berdering memecah lamunanku. Kusesap sedikit teh tarikku. Kupandangi seorang pria seperti dirimu masuk ke dalam. Agak tergesa-gesa dia mendekati kasir dan memesan sesuatu. Sepertinya sebuah taksi sedang parkir dan menunggunya kembali di luar kedai, maka itu dia tampak tergesa-gesa. Ah, untuk sedetik aku sungguh berharap itu kamu. Tapi mana mungkin. Semesta tidak melakukan pertunjukan sulapnya dua kali. Pasti hanya satu kali. Dan kita telah melewatkannya.

.

.

.

Aku salah. Di kejauhan aku melihat seseorang sedang berteduh sendirian di depan sebuah toko di ujung jalan Malioboro ini. Seseorang yang tidak mungkin kulihat kehadirannya jika aku duduk di tempat favoritku yang kini ditempati pasangan romantis itu. Tapi dari tempat favorit kedua ini, sangatlah jelas bagiku.

Itu kamu, memakai sweatshirt merah yang pernah kuberikan kepadamu. Tiba-tiba dari speaker kecil kedai ini, terdengar intro Bless The Broken Road. Semesta, gurauan apa lagi ini?

Tapi seperti kata mereka, kamu bisa berpacaran dua tahun dan tidak merasakan apa-apa, dan berpacaran dua bulan, tapi merasakan segalanya.

Tempat Favorit Kedua

Sewindu by Tulus

Lagu ini perfectly (well, not really sih.. karena saya masih nunggu ;p dan belum 8 tahun juga nunggunya — tapi kayanya itu figuratif ya) menunjukkan perasaan saya saat ini ke dia. Dia yang senyumnya manis banget dan matanya indah banget. I just hope that we’ll be just fine..

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis merayumu

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan

Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Video

Hei, Kamu

Hei, kamu, yang sering tiba-tiba menghilang dan nyuekin aku, kali ini caramu membalas pesan dan memperlakukanku sudah seperti layaknya aku ini penguntit yang penuh modus kriminal. Perlu kau tahu, aku tidak menguntitmu sebegitunya juga, lho. Aku tidak memahamimu sebesar itu juga, dan aku tidak mengerti alasan-alasan di balik tindakan-tindakanmu sebaik itu juga. Aku hanya berusaha menghargaimu sebagai seorang teman and a human being, menjagamu tanpa menjagamu karena aku tahu diri (bukan tak percaya diri – kalau kata Tulus), tapi sepertinya terkadang kamu lupa kalau di balik eksteriorku yang brewokan dan berbadan besar ini, di situ adalah seorang human being juga, just like you.

Dibilang marah, iya. Dibilang kecewa, pasti. Dibilang sabar, masih perlu ditanyakan kah?

Aku tahu, tidak selamanya kamu memperlakukanku begini. Aku tahu, dalam banyak kesempatan kamu memperlakukanku baik dan apa adanya. Tapi kamu perlu juga tahu, ketika kamu sedang merasa tidak ingin memperlakukanku demikian, cukuplah kamu ucapkan, “Jangan sekarang,” atau “tunggu.” Aku kira kamu  seseorang yang lebih terbuka daripada ini.

Kadang aku berpikir, adakah salah aku ke kamu? Adakah gue membuat loe terdesak pisan sehingga loe bete dan memutuskan untuk nyuekin gue? Jika ada, maafkan gue karena apparently gue hanyalah seorang manusia biasa yang kadang-kadang berharap dan kadang-kadang kecewa. Bukankah setiap kita pernah begitu?

Hei, kamu, jika memang salah gue menunggu apa yang pernah kamu ucapkan ke gue dalam suatu voice note 4 menitan itu, katakanlah. Sebab aku bukan pembaca pikiranmu. Sebab yang kutahu, hatiku perintahkanku untuk menunggu, ragaku perintahkanku untuk henti sejenak, dan pikiranku berkata, “Hati-hati.” Sebab yang kutahu pasti, aku bahkan tidak tahu harus mengikuti kata-kata yang mana.

Sebutlah aku tidak sabaran. Sebutlah aku sentimental. Sebutlah aku cengeng. Tapi ketika kamu merasakan semua itu, benarkah itu semua mudah? Jika diam adalah bagian dari mekanisme pertahananmu, maka menulis adalah caraku. Maklumilah.

Kadang kata-kata darimu setelah kamu “stop dari menghilang” membuatku ingin protes.

“Baru ditinggal dua hari, udah galau.”

“Jadi siapa yang bisa bikin tersenyum semalaman itu?”

 

STOP. TEASING. ME. LIKE. THAT. LIKE. I’M. NOT. SERIOUS.

I’m not here to be teased by you. And you don’t know for sure how hard it was for me to wait, and wait, and wait, and.. wait again. It’s not that I don’t want to fly there. It’s just that I know there are still a lot of stuffs going on in and with your life. And I know that I want you to fix them first. At least, I want you to be wanting to fix them first. Do you?

If this feels like a rage, it is. I’m not a saint!

Ada beberapa hal yang gue lakukan supaya gue mempunyai lebih banyak waktu dengan kamu. Yes, I admit it. It’s not that I’m not sincere. It’s not that I’m “cuma modus”. But, that’s because I care about you and about what you asked. And I want to try anything that could possibly get me into knowing you more. That is all. I hope you know that.

If this still feels like a rage, to be honest, not anymore. I’m done writing this stuff.

A conclusion? Well, conclusions are overrated. Let it be open and ambiguous.

Hei, Kamu