Tempat Favorit Kedua

Note: Ini adalah fan fict dari The Coffee Shop Chronicles terbitan ByPASS. Saya suka banget bukunya karena kesederhanaan idenya dan isi ceritanya. Saya memang selalu suka dengan cerita-cerita sederhana tentang cinta dan perasaan, dan saya membayangkan seseorang yang sangat saya sayang ketika membaca buku ini. Kesederhanaan ceritanya dan latar yang terbatas justru membuat saya benar-benar bisa membayangkan isi coffee shop ini dari berbagai sudut ruang dan sudut pandang. Lalu, dengan segala macam imajinajis liar yang sulit dikekang, hadirlah cerita baru dalam otak saya, dari sudut pandang saya! Haha. Selamat menikmati!

13648787

Tempat Favorit Kedua

Sebenarnya aku bukan penggemar kopi. Tapi hujan di luar cukup deras sehingga aku memutuskan untuk berteduh saja di kedai kopi ini. Untungnya, kedai ini kini sepi. Mataku langsung tertuju kepada seorang wanita berwajah etnik yang sedang berbincang dengan seorang wanita tua. Di kakinya tersandar bakul yang penuh dengan toples-toples berisi ramuan kopi. Mungkin ibu itu penjual kopi tubruk, pikirku.

This is quite funny though. Sebenarnya, aku pun tidak tahu apa yang begitu lucu dari keadaan ini. Mungkin perasaanku memang sedang bergejolak dan susah dijelaskan. Mungkin karena ini kedua kali aku berkunjung ke tempat ini. Ya, segala hal, apa pun itu, bisa tiba-tiba terlihat lucu, menarik, atau pun menyebalkan. Mataku kembali tertuju pada si mbah penjual kopi tubruk. Aku selalu teringat oma dan mamiku setiap kali melihat wanita tua. Hatiku gampang sekali tersentuh oleh orang tua, terutama mereka yang di usianya yang telah lanjut, dalam keadaan tubuh yang sudah tidak prima lagi, tapi masih harus menjalani hidup ekstra keras. Ini tidak adil. Tidak pernah adil.

Aku lalu mendekati kasir supaya bisa melihat daftar menu dengan lebih jelas. Pagi tadi aku hanya memesan sepotong croissant tanpa memesan minuman apa pun. Kini aku benar-benar bingung dan tidak mengerti harus memesan apa, sampai aku melihat di suatu baris menu minuman: “teh tarik”.. Ah! Ya! Teh tarik! Serta merta aku dengan yakin berkata kepada mbak penjaga kasir yang kelihatannya sedang lelah, namun tiba-tiba tersenyum ketika terdengar bunyi pesan di ponselnya, “Teh tariknya satu ya, mbak. Yang dingin ya.” Dia seperti bingung. Di ruangan ber-AC sedingin ini, dengan keadaan hujan di luar, seseorang masih memesan minuman dingin. Mungkin begitu kira-kira kebingungannya. Ah, tapi aku memang selalu menyukai minuman dingin. Aku bahkan sering makan es krim ketika aku flu dan batuk. Aku rasa, ketika kita sudah mencintai sesuatu, kita akan terus mencintai itu apa pun keadaannya, bukan? Dan aku benci minuman dan makanan berkuah panas. Aku benci ayam goreng yang dimakan selepas dia keluar dari wajan penggorengan. Aku suka yang hangat-hangat, tapi tidak yang panas-panas. Satu yang pasti, aku penyuka minuman dingin. Es teh adalah kombinasi terbaik.

Mataku kembali tertuju kepada si mbah. Terdengar sayup-sayup pujian dari wanita berwajah etnik ketika mencicipi kopi racikan si mbah. Oh, ternyata wanita itu adalah pemilik kedai ini! Hehe, aku tidak menyangka. Tapi, perhatianku memang tidak terpusat pada dirinya sejak awal aku masuk kedai ini lagi. Ya, lagi. Karena seperti kubilang, ini kedua kali aku ke tempat ini. Dan kesempatan pertama adalah tadi pagi, ketika tidak ada siapa-siapa, termasuk sang pemilik kedai. Makanya aku baru tahu kalau pemilik kedai ini ternyata adalah dirinya.

Sembari aku mencari tempat duduk, yang pilihannya cukup banyak untukku, tapi malah justru membuatku bingung harus duduk di mana, pikiranku melayang ke pagi tadi. Pagi tadi aku sendirian di tempat ini, di kursi yang sekarang ditempati oleh seorang pria berkaos biru tua yang sedang ketiduran di samping seorang wanita dengan rok kuning yang sedang sibuk mengetik sesuatu di sebuah laptop. Tempat mereka duduk adalah lapak terbaik di kedai ini, setidaknya menurutku. Tapi, kali ini aku terpaksa mencari tempat terbaik kedua untuk kutempati karena pilihan pertama jelas sudah diambil orang lain. Aku sebenarnya agak kecewa karena tidak bisa menempati tempat duduk mereka, tapi ada daya rasanya hujan dan rasa kecewa memang sudah menjadi teman sehari-hariku selama dua tahun belakangan. Setidaknya aku punya juara keduanya, kursi di dekat kaca depan ini. Dari sini, aku bisa memandangi trotoar di depanku yang basah oleh percikan air hujan hingga ke ujung jalan. Ini bukan yang terbaik, tapi ini sempurna.

Mataku kembali kepada pasangan yang kini menempati kursiku tadi pagi. Pagi tadi aku sendirian di kursi itu. Menunggu kamu. Tepat sudah dua tahun sejak terakhir kali kita menjalin hubungan resmi sebagai sepasang kekasih. Aku masih ingat bulan Januari itu kamu mengatakan padaku bahwa kamu menemukan orang lain yang membuatmu hatimu terbang melayang. Aku masih ingat bagaimana hatiku retak ketika mendengarnya. Aku masih ingat bagaimana hatiku lalu hancur setelahnya. Dua tahun lalu, dan aku masih ingat. Bulan-bulan berikutnya aku lalui sendiri, bertanya mengapa itu terjadi. Setelah rasa sakit yang kita alami dengan mantan-mantan kita dan setelah sebuah bulan April di mana kita dipertemukan dan dipersilakan oleh semesta untuk saling membuat tertawa sepanjang hari, setiap hari, setiap malam, aku masih tidak mengerti mengapa itu bisa berakhir. Dua tahun, dan aku tidak menemukan lagi yang seperti kamu.

Tiba-tiba aku sedih lagi. Mungkin sesedih perasaan wanita di seberang sana. Eh, tunggu, kok aku baru sadar ada wanita memakai baju pengantin di kedai ini. Sepuluh menit aku berada di sini, dan aku baru sadar sekarang. Ah, dia terlihat sedih, mungkin benar perasaannya sesedih hatiku sekarang. Sedih karena aku tidak bisa lebih lama bersamamu. Delapan bulan. Singkat, mengingat hubunganku yang sebelum-sebelumnya adalah selalu di atas 2,5 tahun. Tapi seperti kata mereka, kamu bisa berpacaran dua tahun dan tidak merasakan apa-apa, dan berpacaran dua bulan, tapi merasakan segalanya.

Aku adalah orang yang sentimental. Seumur hidupku, aku selalu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku ingin seseorang yang baik hati. Seseorang yang bisa mengimbangi sifat-sifat sentimentalku. Seseorang yang bisa bermain gitar, bisa menyanyi, dan aku bisa berdiam dengannya tanpa merasa canggung, melainkan hanya nyaman yang kurasa. Aku ingin bisa bercerita padanya tentang bagaimana aku memandang hidupku seperti sebuah jalan selayak lirik di lagu Bless The Broken Road milik Rascal Flatts, dan aku ingin dia mengerti ceritaku ketika aku bercerita mengenai itu.”

Aku menghela napas. “Tuhan, aku tidak tahu siapa dia, tidak tahu seperti apa rupanya, tapi aku tahu dia ada dan Engkau sudah persiapkan untukku. Aku tahu, aku tidak berhak mengatur kapan, tapi pertemukanlah kami segera.” Dan tidak lama, aku dan kamu dipertemukan. Kamu pernah menyanyikanku sebuah lagu, mengatakan padaku bahwa bukan aku yang mencarimu dan bukan kamu yang mencari aku. Aku pernah bertanya, untuk siapakah lagu itu, dan kamu katakan ketika itu terakhir kali, “Untuk kamu, Haykal.”

Kamu adalah jawaban doaku. Aku tidak tahu apa artinya aku. Aku selalu mengira aku adalah jawaban doamu juga, tapi jelas bukan karena kamu mengakhiri segalanya denganku. Tapi, kamu adalah jawaban doaku. Kebetulan-kebetulan itu, bagaimana hati kita bergerak bersama setiap kita nge-ping satu sama lain di instant messenger, berkali-kali. Aku tak pernah merasakan itu dengan orang lain. Apa kamu pernah? Aku yakin jawaban kamu pun tidak. Jadi, jelas hancur hatiku ketika semuanya harus berakhir. Kamu selalu bilang, syukuri karena itu pernah terjadi, tapi aku tidak pernah bisa mengerti mengapa Tuhan mempertemukan kita untuk saling mencintai jika akhirnya kita tidak lagi bisa bersama sebagai dua orang yang saling mencintai. What is the point? Mereka selalu bertanya, mengapa aku begitu sabar menunggu seseorang yang telah meninggalkanku, tapi aku sungguh tidak bisa menjawabnya. Aku menunggu bukan berarti aku sabar. Aku menunggu karena aku tidak mempunyai hal lain untuk kulakukan. Tidak ada hal lain yang hadir dan memberikan warna baru dalam perjalananku. Hanya ada sebisik suara hati yang berkata supaya aku di sini. Dia tidak berkata aku harus menunggu, namun aku memang sepertinya harus tetap berada di sini, dalam keadaanku yang seperti ini. Persimpangan-persimpangan jalan di depanku seakan memerintah bahwa jalanku harus tetap di jalan ini. Mungkin karena itu pula aku belum menemukan pengganti dirimu hingga hari ini. Tidak, aku tidak lagi menyalahkanmu. Aku yakin setiap orang berhak bahagia, demikian juga kamu. Bagiku, kamu adalah tetap kamu yang pernah mencintai aku dan memberikan aku waktu terbaik dalam hidupku. Aku hanya tidak mengerti akan permainan semesta. Teman-temanku berkata, aku akan mengerti bila waktunya tiba, namun sampailah aku pada hari ini, dua tahun kemudian, dan tetap aku belum mengerti. Oh, aku sungguh mencintai dan merindukan kamu, Farhan.

Ya, sampailah juga aku di sini, di kedai ini menunggu kamu. Tidak. Aku tidak benar-benar menunggu kamu. Aku ‘menunggu’ kamu. Menunggu kamu muncul kembali dari balik kegelapan malam. Menunggu yang hilang, menunggu yang mungkin tak mungkin kembali. Mungkin. Aku bahkan tidak tahu engkau di mana dan bagaimana sekarang. Setelah beberapa bulan semenjak hubungan kita berakhir, aku berusaha menjaga jarak darimu karena aku tidak ingin mengganggumu yang ketika itu bukan milikku lagi. Aku juga menunggu “kamu”, sang belahan jiwa yang mungkin akan kutemukan di sela-sela hujan deras yang mengguyur Yogyakarta, dan keheningan kedai kopi ini. “Kamu” yang mungkin bisa melupakan perasaanku kepada kamu. “Kamu” yang akan menekan tombol reset itu sekali lagi, dan membuat segalanya menjadi baru dan indah bagiku, sekali lagi. Entahlah “kamu” itu siapa, aku pun tidak tahu. I’m just being hopeful. You just haven’t met them yet, kata Michael Buble.

Perjalananku ke Yogya dari Bandung subuh tadi adalah caraku menenangkan hatiku yang sudah semakin lelah menunggu kamu. Mereka bilang, berjalan kaki adalah obat terbaik untuk move on karena ada terapi psikologis untuk kita yang melihat langkah kaki kita bergerak maju ke depan, meninggalkan tempat yang kita pijak sebelumnya, selangkah demi selangkah. Tiada tempat di pulau ini yang lebih nyaman untukku berjalan kaki selain kota ini. Lagipula, sudah 16 tahun sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di Yogya. Aku rasa, sekarang saatnya aku kembali ke kota ini. Aku memang mencoba apa pun asalkan aku bisa melupakan kamu. Ya, kamu, Farhan. Kucoba apa pun asalkan aku bisa menemui “kamu”. Ya, “kamu”, sang belahan jiwa.

Tiba-tiba bel kecil di atas pintu kedai berdering memecah lamunanku. Kusesap sedikit teh tarikku. Kupandangi seorang pria seperti dirimu masuk ke dalam. Agak tergesa-gesa dia mendekati kasir dan memesan sesuatu. Sepertinya sebuah taksi sedang parkir dan menunggunya kembali di luar kedai, maka itu dia tampak tergesa-gesa. Ah, untuk sedetik aku sungguh berharap itu kamu. Tapi mana mungkin. Semesta tidak melakukan pertunjukan sulapnya dua kali. Pasti hanya satu kali. Dan kita telah melewatkannya.

.

.

.

Aku salah. Di kejauhan aku melihat seseorang sedang berteduh sendirian di depan sebuah toko di ujung jalan Malioboro ini. Seseorang yang tidak mungkin kulihat kehadirannya jika aku duduk di tempat favoritku yang kini ditempati pasangan romantis itu. Tapi dari tempat favorit kedua ini, sangatlah jelas bagiku.

Itu kamu, memakai sweatshirt merah yang pernah kuberikan kepadamu. Tiba-tiba dari speaker kecil kedai ini, terdengar intro Bless The Broken Road. Semesta, gurauan apa lagi ini?

Tapi seperti kata mereka, kamu bisa berpacaran dua tahun dan tidak merasakan apa-apa, dan berpacaran dua bulan, tapi merasakan segalanya.

Tempat Favorit Kedua

Harapan

Ketika harapan muncul
Menyeruak
Menyentak
Segala yang menghalang,
Ketakutan menyertai,
Keraguan menemani
Diam.
Sesaat.

Ketika harapan lalu hilang,
Apa tersisa?
Apa tertinggal?
Selain pasrah,
dan mungkin sesal,
dan kesal.
Karena tidak berusaha,
dan takluk kepada takut,
kepada ragu.

Tolonglah.

Ku hanya tak ingin ragu.
Hanya ingin mengantar.
Sebuah harapan. Satu.
Ke tempatnya bersandar.

Sebab harapan bukan untuk tanpa alasan.
Bukan hanya untuk dirasakan.
Atau untuk disimpan.

Bukan.

Tolonglah.

Aku hanya ingin mengantar harapan.
Lalu, kulihat jarum jam berpindah angka.

Semoga.

Ada.

Harapan

Kisah Klasik Seorang Pawang Cinta

Aku lihat dia berdiri di sana. Dengan muka yang sinarnya memudar, dia seperti mengundangku untuk menghampirinya, tapi apakah iya harus aku dekati? Aku sudah terlalu sering mengalami sakit hati. Menaruh harapan pada orang-orang yang pada akhirnya meninggalkanku atau tidak pernah percaya kepadaku. Rasanya aku terlalu lelah dan aku bisa-bisa hancur kalau kali ini berakhir demikian juga.

Empat bulan yang lalu aku masih berjalan bersama dia, seseorang yang dulu amat kucinta dan sungguh-sungguh kujaga, tapi suatu waktu aku terjatuh oleh sebuah ucapannya, lalu dia berkata bahwa dia tidak bisa membantuku berdiri lagi. Begitulah lalu kulihat dia berjalan meninggalkan aku yang sedang berusaha berdiri untuk kembali mengejar dia. Belum sempat kukejar, dia sudah hilang dari pandanganku. Entah ke mana.

Dalam hancurku, aku akhirnya mampu kembali berdiri dan berjalan. Berjalan aku tak tahu harus ke mana, tapi aku tahu aku harus berjalan. Aku tidak bisa tetap di situ. Perjalanan sudah tidak menyenangkan lagi, maka aku harus beranjak menemukan tempatku berteduh. Aku haus dan aku harus terus berjalan, begitu pikirku.

Setelah berjalan cukup lama, di kejauhan aku melihat seseorang yang berjalan dengan letihnya juga. Mataku berbinar-binar, aku ingin kejar. Maka, kukejarlah dia. Kupanggil-panggil dia, dan dia menoleh. Kami lalu bertukar cerita, perjalanan ini menjadi tidak sepi lagi. Aku bisa tersenyum lagi. Lalu, mulai kuajak dia untuk berjalan lebih cepat. Aku ingin kita lari ke depan sana, tampaknya melihat sunset di pantai sana pastilah indah. Sebelum sunset tiba, sungguh kuingin cepat sampai di sana karena aku merasa sudah terlalu lama aku di jalan ini. Tapi dia seperti ragu. Baginya, sunset itu belum sebanding dengan sunrise yang pagi ini dia lihat di tempat dia sebelumnya berada. Dia masih mengingankan melihat sunrise itu walaupun kami sama-sama tahu bahwa sunrise sudah lewat, dia sudah hilang, dan tak akan kembali sampai waktu yang lama.

Terik matahari makin terasa menjelang tengah hari. Tapi perjalanan kami menjadi nyaman, setidaknya demikian kurasa karena setidaknya aku mempunyai teman ngobrol. Detik-detik, menit-menit, dan lalu 1 jam pun berlalu. Kami semakin dekat, tapi aku tahu kami tak mempunyai tujuan yang sama. Aku ingin melihat sunset itu, dia masih berpikir bahwa sunrise tidak akan tergantikan keindahannya oleh sang sunset.

Aku mulai letih karena dalam hatiku, aku ingin sekali melihat sunset. Aku harus melihatnya. Aku ingin perjalananku ini ditutup dengan sesuatu yang memberikanku ketenangan, setidaknya sebelum malam akhirnya tiba nanti. Aku mulai letih, aku ingin melihat sunset. Maka, pada suatu titik aku memutuskan untuk mempercepat langkahku. Seandainya saja dia berkata, “Tunggu aku,” tentu saja aku akan menunggu, tapi aku tidak melihat sebuah kegusaran pada dirinya. Dalam hatinya, aku tahu dia tetap merindukan sunrise. Jadi, aku pergi. Aku berjalan lebih cepat.

Menit-menit berlalu, jam-jam berlalu. Sunset sudah semakin dekat, tapi aku bahkan baru tersadar bahwa aku sama sekali tidak tahu jalan menuju pantai. Aku buta. Aku hilang arah. Hampir hilang asaku hingga di suatu perempatan jalan aku bertemu dengan kamu. Ya, kamu.

—————

Hampir setengah tahun aku kehilangan dirinya. Dan malam ini lagi-lagi aku hanya berusaha untuk melewati satu malam lagi. Setidaknya, esok pagi aku bisa melihat hari bersinar cerah lagi dan aku bisa melupakan semua kegelisahanku. Di sini lah aku, dengan sinar wajahku yang sepertinya memudar. Akankah ada seseorang yang akan menyadarinya? Ah, tidak akan, pikirku, jangan berkhayal.

Ketika aku terjatuh di perjalanan kemarin, aku hanya ingin bangkit lagi. Tapi, memang rasanya sakit sekali dibiarkan terjatuh, tidak ditolong untuk bangkit, malahan ditinggalkan. Bagaimanapun, aku orang yang tegar. Aku kuat. Aku kuat. Aku berjalan dan berjalan. Melanjutkan perjalananku dengan kedua kakiku yang aku yakin, kuat. Tidak terasa ketika aku mendekati sang siang, aku pun haus dan letih. Hampir aku menyerah, sampai aku melihat seseorang yang sedang berjalan di depanku. Kuberanikan diriku bertanya, “Mau ke mana?”

Jawabnya, “Aku sebenarnya tidak tahu mau ke mana. Aku hanya berusaha terus berjalan.” Ah, pikirku, aku pun demikian. Aku hanya ingin berjalan dan semoga di depan sana ada sebuah tempat peristirahatan di mana aku bisa berteduh dan bertukar cerita dengan seseorang. “Boleh aku menemani?” tanyaku. Dia pun mengangguk.

Kami lalu bersenda-gurau. Aku bisa tertawa lagi dan aku merasakan sesuatu yang sedari pagi tidak kurasakan: kesejukan. Padahal matahari bersinar percaya diri siang ini, tapi aku merasa tidak apa-apa. Lalu, kukatakan padanya, “Mari kita cari kedai untuk sekedar kita duduk-duduk dan bercerita.” Dia mengangguk. Sepertinya dia hanya iya-iya saja, tidak kurasakan binar-binar semangat di dalam matanya. Tapi, tak apa, toh dia tidak menolak juga kan. Aku orang yang optimis dan aku yakin dengan semangatku ini bahwa setiap orang itu baik dan selayaknya aku perlakukan setiap orang demikian. Setiap orang baik. Setiap orang baik.

Namun, hati memang sedalam samudera. Dalamnya tidak ada yang tahu. Kerinduannya tidak ada yang mengerti. Maka, setiap kali aku meledak-ledak dalam semangat dan harapanku untuk menemukan tempat beristirahat di depan sana dan dia hanya mengangguk, hati ini mulailah retak. Lama-lama, pikirku, ke mana semangatmu, Bung? Apakah ini semua hanya keinginanku saja, dan bukan keinginanmu juga? Aku mulai merasa kami tidak sepadan dan tidak sejalan. Yang pasti, kami memang tidak seirama. Dentuman langkah kami berbeda dan aku tidak sanggup lagi berjalan perlahan-lahan seperti ini. Aku haus, aku ingin istirahat. Aku butuh tempat berteduh. Aku butuh tempat berteduh.

Maka, mulailah kutinggalkan dia sedikit-sedikit. Kupercepat langkahku. Setelah beberapa lama, masih bisa kulihat dia di belakang, namun sosok dirinya makin mengecil dalam pandanganku. Aku terus berjalan sambil memandanginya menjauh. Aku terus berjalan sambil melihatnya menghilang di ujung sana. Aku lalu menoleh ke depan lagi ketika tiba-tiba aku hampir bertabrakan dengan kamu. Ya, kamu.

“Hai, kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu sedang memikirkan banyak hal. Mau cerita?” demikian sapaanmu. “Jangan di sini ya? Lebih enak kalau sambil jalan ke depan.” jawabku. Kamu pun berkata, “Ayo!” Hei, siapa ini, tampaknya bersemangat sekali. Aku pun tersenyum.

—————

Hari menjelang sore, sunset semakin dekat, tempat peristirahatan tak kunjung terlihat, tapi mereka tetap berjalan bersama. Mereka tertawa dan tertawa dan tertawa. Tak terasa, sore pun terlewati. Pantai tidak ketemu dan belum satu pun tempat istirahat dijumpai. Tapi, mereka tetap tertawa dan tertawa dan tertawa. Padahal, sudah kudatangkan malam yang gelap kali ini.

“Hei, coba kau tunjuk satu bintang,” ujar salah seorang. Yang lain berkata, “Sebagai pedoman langkah kita?” Mereka lalu tersenyum. Malam itu gelap dan dingin karena aku menginginkannya demikian, tapi mereka tidak peduli. Mereka sudah tertawa terlalu banyak. Kegelapan dan rasa dingin bukan lagi masalah. Yang mereka rasakan malam itu adalah misteri ketika mereka pandangi langit hitam yang luas terbentang di atas mereka. Misteri mengapa mereka bertemu.

Sesungguhnya, mereka tahu, tapi aku akan selalu memberikan pertanyaan itu di benak mereka. Bukan untuk mereka pertanyakan, tapi untuk mereka ingat berulang-ulang bahwa jawaban dari mengapa itu tidak penting. Yang penting adalah mereka bahagia.

Tapi, bolehkah kuberitahukan sedikit rahasiaku mengapa mereka bertemu? Tentunya alasan pertama adalah karena mereka sepadan dan sama-sama ingin berjuang. Mereka sering berdoa kepadaku dan meminta dipertemukan dengan seseorang yang bisa memahami semangat dan optimisme mereka. Aku rasa, tidak ada orang yang lebih pantas untuk kupertemukan dengan mereka selain mereka sendiri.

Tapi, alasan utamaku adalah karena aku yakin bahwa ini akan membuat keduanya bahagia. Inilah kisah klasikku. Ah, aku mencintai pekerjaanku.

Kisah Klasik Seorang Pawang Cinta

My version of happyness.

Gak, gak typo kok. Kan mau sok-sokan kayak judul film, jadi nulisnya happyness. :))

My version of happyness.. sebelum kita sampai ke konklusi itu, saya pengen cerita-cerita deh sedikit. Jadi saya ini orang yang dibilang ambisius, ya lumayan, dibilang terlalu pemalas juga iya banget. Intinya, saya punya banyak cita-cita ini-itu, tapi saya pada dasarnya memang orangnya terlalu pemalas dan terlalu laid-back. Tipikal seorang Taurus banget deh. Kadang saya ingin mempunyai ini-itu yang orang lain punya, yang mana ini-itu tersebut rasa-rasanya sih hanya bisa dicapai bila saya sukses atau setidaknya sesukses orang itu. Sukses dalam bentuk apa? Ya, tentunya sukses secara finansial dong.

But, then again, menurut saya, sukses itu macam-macam. Sukses berumah-tangga juga sukses walaupun mungkin rumah tangganya hanya sekedar berkecukupan tanpa berkelebihan. Sukses membuktikan teori-teori tertentu juga sukses walaupun mungkin tidak menghasilkan uang sebagaimana misalnya sebuah bisnis. Berhasil menikmati hidup apa adanya juga sukses, yaitu kesuksesan memuaskan diri sendiri tanpa perlu too many efforts. Maksudnya sih, definisi sukses tiap orang beda-beda sih.

Lalu, saya jadi kembali ke suatu waktu di mana saya berpikir tentang sukses semacam apa yang saya cari. Saya orangnya kadang gak tahu apa yang saya mau sampai sesuatu itu ada di depan saya dan tiba-tiba saya tahu, saya mau itu. Begitu. Tapi satu hal yang saya tahu sih, saya orangnya cinta sekali kestabilan. Tipikal Taurus lagi kan, kan. Kalau bisa pilih, saya tidak menyukai melakukan perubahan walaupun saya tidak sekeras hati itu juga sih karena saya orangnya optimistis dan saya tidak takut berubah kalau memang saya merasa optimis dengan perubahan itu. Perubahan itu perlu, tapi ketika saya sudah berada di zona yang teramat nyaman untuk saya dan saya bahagia (tolong garis bawahi “bahagia”), saya rasa saya tidak memerlukan lagi perubahan apa-apa.

Saya orangnya rumit dalam berkonsep, tapi praktis dalam memutuskan sesuatu. Walaupun saya sering tidak tahu apa yang saya mau, saya seringnya tahu satu-dua hal yang saya selalu inginkan: menemukan teman hidup yang compatible luar dalam dengan saya, berkomitmen dengannya dan menjaga komitmen itu, membangun suatu rumah tangga (atau apa pun sebutannya lah karena rumah tangga bagi saya kan tidak akan sesimpel rumah tangga bagi banyak orang), menjadikan setiap momen kebersamaan berarti.

Saya tumbuh besar tanpa seorang ayah, tanpa seorang kakak, dan tanpa seorang adik pun juga. Hanya ada mami saya dan saya. Dan kami tidak terlalu dekat karena perbedaan umur kami yang begitu jauh dan itu menyebabkan banyak miskomunikasi dan kesulitan untuk saling mengerti keinginan dan harapan masing-masing. Saya menghabiskan lebih dari setengah hidup saya hidup kesepian. Saya orangnya sering aloof (saya malas cari padanan katanya di bahasa Indonesia). Saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam masa kecil saya, yaitu seseorang yang saya merasa very connected in so many levels. Tapi saya tidak menyerah, saya optimis kok saya akan menemukan seseorang yang bisa membayar lunas semua itu semudah hitungan satu-dua-tiga. Saya optimis kehidupan saya akan bahagia selama saya tetap berjalan dalam jalur yang saya sudah tetapkan untuk saya jalani sebelumnya.

Godaan banyak di mana-mana. Cemoohan pun di mana-mana. Dorongan orang lain supaya saya lebih gesit, lebih ambisius, dan lain-lain pun.. ya itu di mana-mana. :)) Mereka bilang, mereka cuma ingin saya bahagia. Tapi mereka sepertinya lupa kalau saya sudah merasa cukup dengan hidup saya kok. Saya orangnya lumayan spiritual jadi selama kepuasan batin saya tercukupi, untuk saya itu cukup. Tentu saya bisa berusaha lebih kok kalau mau dan kalau perlu, tapi entah kenapa saya yang pada dasarnya pemalas dan laid-back, saya lebih suka untuk tidak melakukannya sekarang. Saya memang keras kepala sih. Tipikal Taurus lagi ya. Haha. Ya sebenarnya bukan saya tidak pernah memikirkan perkataan dan nasihat-nasihat orang di sekitar saya sama sekali, tapi saya merasa hanya sayalah yang paling mengerti kebahagiaan seperti apa kah yang sungguh versi saya.

Kalau ditanya, apa sih yang kurang dari hidup saya, saya pasti jawabnya: teman hidup. Itu kok yang kurang. Bukan kesejahteraan hidup saya. Life’s good, and sure, life can be better when I can afford more. True. But, if I have a life partner, my life will not only be better, it’ll be perfect. Jadi demikianlah misi saya mencari cinta itu dimulai. Setelah belasan tahun, saya merasa saya sudah hampir berada di garis finishnya sih. Mengapa? Ya karena beberapa kejadian akhir-akhir ini. Perlukah saya ceritakan? Mungkin di lain waktu ya karena sekarang semuanya sungguh masih too early to tell.. Let’s not be unwise. 🙂

Saya optimis bahwa saya pasti akan bahagia karena saya sudah tahu apa kebahagiaan saya. Kebahagiaan saya adalah bangun pagi di samping seseorang yang saya cintai dan mencintai saya, hidup bersama dengan dia, menularkan kebahagiaan kami kepada orang-orang di sekitar kami yang less fortunate. Itulah kebahagiaan saya: to love and to be loved.

Keliatan standar banget ya? Sebenarnya saya gak bilang saya orang yang se-boring itu kok. I am weird and naturally I love surprises (in life). I root for surprises. Saya menyukai keliling dunia, tapi apa indahnya keliling dunia jika kita belum menemukan seseorang untuk kita ajak bersama-sama keliling dunia? Bukankah first things first? Jika selanjutnya terdapat peningkatan kualitas dan kenyamanan hidup, dan kesempatan-kesempatan lainnya, dan berbagai perubahan positif lainnya yang kemungkinannya tak terbatas, itu semua adalah sungguh bonus. Di sini mungkin akan ada yang mendebat, ya siapa tahu dengan keliling dunia, bisa ketemu sama jodohnya. Iya, iya, bisa kok, bisa. 😀

Tapi, ya pada intinya, jika suatu hari the universe benar-benar memberikan hadiah terindah tersebut kepada saya, tidak akan sekali-sekali saya menukarnya dengan hal lain.

Dan tahukah kamu? The universe is good. It doesn’t sleep. And it will answer. Soon.

the happiness of your life depends upon the quality of your thoughts copy

 

My version of happyness.