Tempat Favorit Kedua

Note: Ini adalah fan fict dari The Coffee Shop Chronicles terbitan ByPASS. Saya suka banget bukunya karena kesederhanaan idenya dan isi ceritanya. Saya memang selalu suka dengan cerita-cerita sederhana tentang cinta dan perasaan, dan saya membayangkan seseorang yang sangat saya sayang ketika membaca buku ini. Kesederhanaan ceritanya dan latar yang terbatas justru membuat saya benar-benar bisa membayangkan isi coffee shop ini dari berbagai sudut ruang dan sudut pandang. Lalu, dengan segala macam imajinajis liar yang sulit dikekang, hadirlah cerita baru dalam otak saya, dari sudut pandang saya! Haha. Selamat menikmati!

13648787

Tempat Favorit Kedua

Sebenarnya aku bukan penggemar kopi. Tapi hujan di luar cukup deras sehingga aku memutuskan untuk berteduh saja di kedai kopi ini. Untungnya, kedai ini kini sepi. Mataku langsung tertuju kepada seorang wanita berwajah etnik yang sedang berbincang dengan seorang wanita tua. Di kakinya tersandar bakul yang penuh dengan toples-toples berisi ramuan kopi. Mungkin ibu itu penjual kopi tubruk, pikirku.

This is quite funny though. Sebenarnya, aku pun tidak tahu apa yang begitu lucu dari keadaan ini. Mungkin perasaanku memang sedang bergejolak dan susah dijelaskan. Mungkin karena ini kedua kali aku berkunjung ke tempat ini. Ya, segala hal, apa pun itu, bisa tiba-tiba terlihat lucu, menarik, atau pun menyebalkan. Mataku kembali tertuju pada si mbah penjual kopi tubruk. Aku selalu teringat oma dan mamiku setiap kali melihat wanita tua. Hatiku gampang sekali tersentuh oleh orang tua, terutama mereka yang di usianya yang telah lanjut, dalam keadaan tubuh yang sudah tidak prima lagi, tapi masih harus menjalani hidup ekstra keras. Ini tidak adil. Tidak pernah adil.

Aku lalu mendekati kasir supaya bisa melihat daftar menu dengan lebih jelas. Pagi tadi aku hanya memesan sepotong croissant tanpa memesan minuman apa pun. Kini aku benar-benar bingung dan tidak mengerti harus memesan apa, sampai aku melihat di suatu baris menu minuman: “teh tarik”.. Ah! Ya! Teh tarik! Serta merta aku dengan yakin berkata kepada mbak penjaga kasir yang kelihatannya sedang lelah, namun tiba-tiba tersenyum ketika terdengar bunyi pesan di ponselnya, “Teh tariknya satu ya, mbak. Yang dingin ya.” Dia seperti bingung. Di ruangan ber-AC sedingin ini, dengan keadaan hujan di luar, seseorang masih memesan minuman dingin. Mungkin begitu kira-kira kebingungannya. Ah, tapi aku memang selalu menyukai minuman dingin. Aku bahkan sering makan es krim ketika aku flu dan batuk. Aku rasa, ketika kita sudah mencintai sesuatu, kita akan terus mencintai itu apa pun keadaannya, bukan? Dan aku benci minuman dan makanan berkuah panas. Aku benci ayam goreng yang dimakan selepas dia keluar dari wajan penggorengan. Aku suka yang hangat-hangat, tapi tidak yang panas-panas. Satu yang pasti, aku penyuka minuman dingin. Es teh adalah kombinasi terbaik.

Mataku kembali tertuju kepada si mbah. Terdengar sayup-sayup pujian dari wanita berwajah etnik ketika mencicipi kopi racikan si mbah. Oh, ternyata wanita itu adalah pemilik kedai ini! Hehe, aku tidak menyangka. Tapi, perhatianku memang tidak terpusat pada dirinya sejak awal aku masuk kedai ini lagi. Ya, lagi. Karena seperti kubilang, ini kedua kali aku ke tempat ini. Dan kesempatan pertama adalah tadi pagi, ketika tidak ada siapa-siapa, termasuk sang pemilik kedai. Makanya aku baru tahu kalau pemilik kedai ini ternyata adalah dirinya.

Sembari aku mencari tempat duduk, yang pilihannya cukup banyak untukku, tapi malah justru membuatku bingung harus duduk di mana, pikiranku melayang ke pagi tadi. Pagi tadi aku sendirian di tempat ini, di kursi yang sekarang ditempati oleh seorang pria berkaos biru tua yang sedang ketiduran di samping seorang wanita dengan rok kuning yang sedang sibuk mengetik sesuatu di sebuah laptop. Tempat mereka duduk adalah lapak terbaik di kedai ini, setidaknya menurutku. Tapi, kali ini aku terpaksa mencari tempat terbaik kedua untuk kutempati karena pilihan pertama jelas sudah diambil orang lain. Aku sebenarnya agak kecewa karena tidak bisa menempati tempat duduk mereka, tapi ada daya rasanya hujan dan rasa kecewa memang sudah menjadi teman sehari-hariku selama dua tahun belakangan. Setidaknya aku punya juara keduanya, kursi di dekat kaca depan ini. Dari sini, aku bisa memandangi trotoar di depanku yang basah oleh percikan air hujan hingga ke ujung jalan. Ini bukan yang terbaik, tapi ini sempurna.

Mataku kembali kepada pasangan yang kini menempati kursiku tadi pagi. Pagi tadi aku sendirian di kursi itu. Menunggu kamu. Tepat sudah dua tahun sejak terakhir kali kita menjalin hubungan resmi sebagai sepasang kekasih. Aku masih ingat bulan Januari itu kamu mengatakan padaku bahwa kamu menemukan orang lain yang membuatmu hatimu terbang melayang. Aku masih ingat bagaimana hatiku retak ketika mendengarnya. Aku masih ingat bagaimana hatiku lalu hancur setelahnya. Dua tahun lalu, dan aku masih ingat. Bulan-bulan berikutnya aku lalui sendiri, bertanya mengapa itu terjadi. Setelah rasa sakit yang kita alami dengan mantan-mantan kita dan setelah sebuah bulan April di mana kita dipertemukan dan dipersilakan oleh semesta untuk saling membuat tertawa sepanjang hari, setiap hari, setiap malam, aku masih tidak mengerti mengapa itu bisa berakhir. Dua tahun, dan aku tidak menemukan lagi yang seperti kamu.

Tiba-tiba aku sedih lagi. Mungkin sesedih perasaan wanita di seberang sana. Eh, tunggu, kok aku baru sadar ada wanita memakai baju pengantin di kedai ini. Sepuluh menit aku berada di sini, dan aku baru sadar sekarang. Ah, dia terlihat sedih, mungkin benar perasaannya sesedih hatiku sekarang. Sedih karena aku tidak bisa lebih lama bersamamu. Delapan bulan. Singkat, mengingat hubunganku yang sebelum-sebelumnya adalah selalu di atas 2,5 tahun. Tapi seperti kata mereka, kamu bisa berpacaran dua tahun dan tidak merasakan apa-apa, dan berpacaran dua bulan, tapi merasakan segalanya.

Aku adalah orang yang sentimental. Seumur hidupku, aku selalu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku ingin seseorang yang baik hati. Seseorang yang bisa mengimbangi sifat-sifat sentimentalku. Seseorang yang bisa bermain gitar, bisa menyanyi, dan aku bisa berdiam dengannya tanpa merasa canggung, melainkan hanya nyaman yang kurasa. Aku ingin bisa bercerita padanya tentang bagaimana aku memandang hidupku seperti sebuah jalan selayak lirik di lagu Bless The Broken Road milik Rascal Flatts, dan aku ingin dia mengerti ceritaku ketika aku bercerita mengenai itu.”

Aku menghela napas. “Tuhan, aku tidak tahu siapa dia, tidak tahu seperti apa rupanya, tapi aku tahu dia ada dan Engkau sudah persiapkan untukku. Aku tahu, aku tidak berhak mengatur kapan, tapi pertemukanlah kami segera.” Dan tidak lama, aku dan kamu dipertemukan. Kamu pernah menyanyikanku sebuah lagu, mengatakan padaku bahwa bukan aku yang mencarimu dan bukan kamu yang mencari aku. Aku pernah bertanya, untuk siapakah lagu itu, dan kamu katakan ketika itu terakhir kali, “Untuk kamu, Haykal.”

Kamu adalah jawaban doaku. Aku tidak tahu apa artinya aku. Aku selalu mengira aku adalah jawaban doamu juga, tapi jelas bukan karena kamu mengakhiri segalanya denganku. Tapi, kamu adalah jawaban doaku. Kebetulan-kebetulan itu, bagaimana hati kita bergerak bersama setiap kita nge-ping satu sama lain di instant messenger, berkali-kali. Aku tak pernah merasakan itu dengan orang lain. Apa kamu pernah? Aku yakin jawaban kamu pun tidak. Jadi, jelas hancur hatiku ketika semuanya harus berakhir. Kamu selalu bilang, syukuri karena itu pernah terjadi, tapi aku tidak pernah bisa mengerti mengapa Tuhan mempertemukan kita untuk saling mencintai jika akhirnya kita tidak lagi bisa bersama sebagai dua orang yang saling mencintai. What is the point? Mereka selalu bertanya, mengapa aku begitu sabar menunggu seseorang yang telah meninggalkanku, tapi aku sungguh tidak bisa menjawabnya. Aku menunggu bukan berarti aku sabar. Aku menunggu karena aku tidak mempunyai hal lain untuk kulakukan. Tidak ada hal lain yang hadir dan memberikan warna baru dalam perjalananku. Hanya ada sebisik suara hati yang berkata supaya aku di sini. Dia tidak berkata aku harus menunggu, namun aku memang sepertinya harus tetap berada di sini, dalam keadaanku yang seperti ini. Persimpangan-persimpangan jalan di depanku seakan memerintah bahwa jalanku harus tetap di jalan ini. Mungkin karena itu pula aku belum menemukan pengganti dirimu hingga hari ini. Tidak, aku tidak lagi menyalahkanmu. Aku yakin setiap orang berhak bahagia, demikian juga kamu. Bagiku, kamu adalah tetap kamu yang pernah mencintai aku dan memberikan aku waktu terbaik dalam hidupku. Aku hanya tidak mengerti akan permainan semesta. Teman-temanku berkata, aku akan mengerti bila waktunya tiba, namun sampailah aku pada hari ini, dua tahun kemudian, dan tetap aku belum mengerti. Oh, aku sungguh mencintai dan merindukan kamu, Farhan.

Ya, sampailah juga aku di sini, di kedai ini menunggu kamu. Tidak. Aku tidak benar-benar menunggu kamu. Aku ‘menunggu’ kamu. Menunggu kamu muncul kembali dari balik kegelapan malam. Menunggu yang hilang, menunggu yang mungkin tak mungkin kembali. Mungkin. Aku bahkan tidak tahu engkau di mana dan bagaimana sekarang. Setelah beberapa bulan semenjak hubungan kita berakhir, aku berusaha menjaga jarak darimu karena aku tidak ingin mengganggumu yang ketika itu bukan milikku lagi. Aku juga menunggu “kamu”, sang belahan jiwa yang mungkin akan kutemukan di sela-sela hujan deras yang mengguyur Yogyakarta, dan keheningan kedai kopi ini. “Kamu” yang mungkin bisa melupakan perasaanku kepada kamu. “Kamu” yang akan menekan tombol reset itu sekali lagi, dan membuat segalanya menjadi baru dan indah bagiku, sekali lagi. Entahlah “kamu” itu siapa, aku pun tidak tahu. I’m just being hopeful. You just haven’t met them yet, kata Michael Buble.

Perjalananku ke Yogya dari Bandung subuh tadi adalah caraku menenangkan hatiku yang sudah semakin lelah menunggu kamu. Mereka bilang, berjalan kaki adalah obat terbaik untuk move on karena ada terapi psikologis untuk kita yang melihat langkah kaki kita bergerak maju ke depan, meninggalkan tempat yang kita pijak sebelumnya, selangkah demi selangkah. Tiada tempat di pulau ini yang lebih nyaman untukku berjalan kaki selain kota ini. Lagipula, sudah 16 tahun sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di Yogya. Aku rasa, sekarang saatnya aku kembali ke kota ini. Aku memang mencoba apa pun asalkan aku bisa melupakan kamu. Ya, kamu, Farhan. Kucoba apa pun asalkan aku bisa menemui “kamu”. Ya, “kamu”, sang belahan jiwa.

Tiba-tiba bel kecil di atas pintu kedai berdering memecah lamunanku. Kusesap sedikit teh tarikku. Kupandangi seorang pria seperti dirimu masuk ke dalam. Agak tergesa-gesa dia mendekati kasir dan memesan sesuatu. Sepertinya sebuah taksi sedang parkir dan menunggunya kembali di luar kedai, maka itu dia tampak tergesa-gesa. Ah, untuk sedetik aku sungguh berharap itu kamu. Tapi mana mungkin. Semesta tidak melakukan pertunjukan sulapnya dua kali. Pasti hanya satu kali. Dan kita telah melewatkannya.

.

.

.

Aku salah. Di kejauhan aku melihat seseorang sedang berteduh sendirian di depan sebuah toko di ujung jalan Malioboro ini. Seseorang yang tidak mungkin kulihat kehadirannya jika aku duduk di tempat favoritku yang kini ditempati pasangan romantis itu. Tapi dari tempat favorit kedua ini, sangatlah jelas bagiku.

Itu kamu, memakai sweatshirt merah yang pernah kuberikan kepadamu. Tiba-tiba dari speaker kecil kedai ini, terdengar intro Bless The Broken Road. Semesta, gurauan apa lagi ini?

Tapi seperti kata mereka, kamu bisa berpacaran dua tahun dan tidak merasakan apa-apa, dan berpacaran dua bulan, tapi merasakan segalanya.

Tempat Favorit Kedua

Kisah Klasik Seorang Pawang Cinta

Aku lihat dia berdiri di sana. Dengan muka yang sinarnya memudar, dia seperti mengundangku untuk menghampirinya, tapi apakah iya harus aku dekati? Aku sudah terlalu sering mengalami sakit hati. Menaruh harapan pada orang-orang yang pada akhirnya meninggalkanku atau tidak pernah percaya kepadaku. Rasanya aku terlalu lelah dan aku bisa-bisa hancur kalau kali ini berakhir demikian juga.

Empat bulan yang lalu aku masih berjalan bersama dia, seseorang yang dulu amat kucinta dan sungguh-sungguh kujaga, tapi suatu waktu aku terjatuh oleh sebuah ucapannya, lalu dia berkata bahwa dia tidak bisa membantuku berdiri lagi. Begitulah lalu kulihat dia berjalan meninggalkan aku yang sedang berusaha berdiri untuk kembali mengejar dia. Belum sempat kukejar, dia sudah hilang dari pandanganku. Entah ke mana.

Dalam hancurku, aku akhirnya mampu kembali berdiri dan berjalan. Berjalan aku tak tahu harus ke mana, tapi aku tahu aku harus berjalan. Aku tidak bisa tetap di situ. Perjalanan sudah tidak menyenangkan lagi, maka aku harus beranjak menemukan tempatku berteduh. Aku haus dan aku harus terus berjalan, begitu pikirku.

Setelah berjalan cukup lama, di kejauhan aku melihat seseorang yang berjalan dengan letihnya juga. Mataku berbinar-binar, aku ingin kejar. Maka, kukejarlah dia. Kupanggil-panggil dia, dan dia menoleh. Kami lalu bertukar cerita, perjalanan ini menjadi tidak sepi lagi. Aku bisa tersenyum lagi. Lalu, mulai kuajak dia untuk berjalan lebih cepat. Aku ingin kita lari ke depan sana, tampaknya melihat sunset di pantai sana pastilah indah. Sebelum sunset tiba, sungguh kuingin cepat sampai di sana karena aku merasa sudah terlalu lama aku di jalan ini. Tapi dia seperti ragu. Baginya, sunset itu belum sebanding dengan sunrise yang pagi ini dia lihat di tempat dia sebelumnya berada. Dia masih mengingankan melihat sunrise itu walaupun kami sama-sama tahu bahwa sunrise sudah lewat, dia sudah hilang, dan tak akan kembali sampai waktu yang lama.

Terik matahari makin terasa menjelang tengah hari. Tapi perjalanan kami menjadi nyaman, setidaknya demikian kurasa karena setidaknya aku mempunyai teman ngobrol. Detik-detik, menit-menit, dan lalu 1 jam pun berlalu. Kami semakin dekat, tapi aku tahu kami tak mempunyai tujuan yang sama. Aku ingin melihat sunset itu, dia masih berpikir bahwa sunrise tidak akan tergantikan keindahannya oleh sang sunset.

Aku mulai letih karena dalam hatiku, aku ingin sekali melihat sunset. Aku harus melihatnya. Aku ingin perjalananku ini ditutup dengan sesuatu yang memberikanku ketenangan, setidaknya sebelum malam akhirnya tiba nanti. Aku mulai letih, aku ingin melihat sunset. Maka, pada suatu titik aku memutuskan untuk mempercepat langkahku. Seandainya saja dia berkata, “Tunggu aku,” tentu saja aku akan menunggu, tapi aku tidak melihat sebuah kegusaran pada dirinya. Dalam hatinya, aku tahu dia tetap merindukan sunrise. Jadi, aku pergi. Aku berjalan lebih cepat.

Menit-menit berlalu, jam-jam berlalu. Sunset sudah semakin dekat, tapi aku bahkan baru tersadar bahwa aku sama sekali tidak tahu jalan menuju pantai. Aku buta. Aku hilang arah. Hampir hilang asaku hingga di suatu perempatan jalan aku bertemu dengan kamu. Ya, kamu.

—————

Hampir setengah tahun aku kehilangan dirinya. Dan malam ini lagi-lagi aku hanya berusaha untuk melewati satu malam lagi. Setidaknya, esok pagi aku bisa melihat hari bersinar cerah lagi dan aku bisa melupakan semua kegelisahanku. Di sini lah aku, dengan sinar wajahku yang sepertinya memudar. Akankah ada seseorang yang akan menyadarinya? Ah, tidak akan, pikirku, jangan berkhayal.

Ketika aku terjatuh di perjalanan kemarin, aku hanya ingin bangkit lagi. Tapi, memang rasanya sakit sekali dibiarkan terjatuh, tidak ditolong untuk bangkit, malahan ditinggalkan. Bagaimanapun, aku orang yang tegar. Aku kuat. Aku kuat. Aku berjalan dan berjalan. Melanjutkan perjalananku dengan kedua kakiku yang aku yakin, kuat. Tidak terasa ketika aku mendekati sang siang, aku pun haus dan letih. Hampir aku menyerah, sampai aku melihat seseorang yang sedang berjalan di depanku. Kuberanikan diriku bertanya, “Mau ke mana?”

Jawabnya, “Aku sebenarnya tidak tahu mau ke mana. Aku hanya berusaha terus berjalan.” Ah, pikirku, aku pun demikian. Aku hanya ingin berjalan dan semoga di depan sana ada sebuah tempat peristirahatan di mana aku bisa berteduh dan bertukar cerita dengan seseorang. “Boleh aku menemani?” tanyaku. Dia pun mengangguk.

Kami lalu bersenda-gurau. Aku bisa tertawa lagi dan aku merasakan sesuatu yang sedari pagi tidak kurasakan: kesejukan. Padahal matahari bersinar percaya diri siang ini, tapi aku merasa tidak apa-apa. Lalu, kukatakan padanya, “Mari kita cari kedai untuk sekedar kita duduk-duduk dan bercerita.” Dia mengangguk. Sepertinya dia hanya iya-iya saja, tidak kurasakan binar-binar semangat di dalam matanya. Tapi, tak apa, toh dia tidak menolak juga kan. Aku orang yang optimis dan aku yakin dengan semangatku ini bahwa setiap orang itu baik dan selayaknya aku perlakukan setiap orang demikian. Setiap orang baik. Setiap orang baik.

Namun, hati memang sedalam samudera. Dalamnya tidak ada yang tahu. Kerinduannya tidak ada yang mengerti. Maka, setiap kali aku meledak-ledak dalam semangat dan harapanku untuk menemukan tempat beristirahat di depan sana dan dia hanya mengangguk, hati ini mulailah retak. Lama-lama, pikirku, ke mana semangatmu, Bung? Apakah ini semua hanya keinginanku saja, dan bukan keinginanmu juga? Aku mulai merasa kami tidak sepadan dan tidak sejalan. Yang pasti, kami memang tidak seirama. Dentuman langkah kami berbeda dan aku tidak sanggup lagi berjalan perlahan-lahan seperti ini. Aku haus, aku ingin istirahat. Aku butuh tempat berteduh. Aku butuh tempat berteduh.

Maka, mulailah kutinggalkan dia sedikit-sedikit. Kupercepat langkahku. Setelah beberapa lama, masih bisa kulihat dia di belakang, namun sosok dirinya makin mengecil dalam pandanganku. Aku terus berjalan sambil memandanginya menjauh. Aku terus berjalan sambil melihatnya menghilang di ujung sana. Aku lalu menoleh ke depan lagi ketika tiba-tiba aku hampir bertabrakan dengan kamu. Ya, kamu.

“Hai, kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu sedang memikirkan banyak hal. Mau cerita?” demikian sapaanmu. “Jangan di sini ya? Lebih enak kalau sambil jalan ke depan.” jawabku. Kamu pun berkata, “Ayo!” Hei, siapa ini, tampaknya bersemangat sekali. Aku pun tersenyum.

—————

Hari menjelang sore, sunset semakin dekat, tempat peristirahatan tak kunjung terlihat, tapi mereka tetap berjalan bersama. Mereka tertawa dan tertawa dan tertawa. Tak terasa, sore pun terlewati. Pantai tidak ketemu dan belum satu pun tempat istirahat dijumpai. Tapi, mereka tetap tertawa dan tertawa dan tertawa. Padahal, sudah kudatangkan malam yang gelap kali ini.

“Hei, coba kau tunjuk satu bintang,” ujar salah seorang. Yang lain berkata, “Sebagai pedoman langkah kita?” Mereka lalu tersenyum. Malam itu gelap dan dingin karena aku menginginkannya demikian, tapi mereka tidak peduli. Mereka sudah tertawa terlalu banyak. Kegelapan dan rasa dingin bukan lagi masalah. Yang mereka rasakan malam itu adalah misteri ketika mereka pandangi langit hitam yang luas terbentang di atas mereka. Misteri mengapa mereka bertemu.

Sesungguhnya, mereka tahu, tapi aku akan selalu memberikan pertanyaan itu di benak mereka. Bukan untuk mereka pertanyakan, tapi untuk mereka ingat berulang-ulang bahwa jawaban dari mengapa itu tidak penting. Yang penting adalah mereka bahagia.

Tapi, bolehkah kuberitahukan sedikit rahasiaku mengapa mereka bertemu? Tentunya alasan pertama adalah karena mereka sepadan dan sama-sama ingin berjuang. Mereka sering berdoa kepadaku dan meminta dipertemukan dengan seseorang yang bisa memahami semangat dan optimisme mereka. Aku rasa, tidak ada orang yang lebih pantas untuk kupertemukan dengan mereka selain mereka sendiri.

Tapi, alasan utamaku adalah karena aku yakin bahwa ini akan membuat keduanya bahagia. Inilah kisah klasikku. Ah, aku mencintai pekerjaanku.

Kisah Klasik Seorang Pawang Cinta

Peluklah Aku Sebab Aku Mulai Mencintaimu

Sebuah buku boleh kelihatan usang, tapi isinya bisa saja tidak usang. Aku seakan-akan sedang mengunjungi lagi masa laluku seiring dibukanya halaman-halaman kekuningan itu. Bau kertas-kertas tua menyelinap ke penciumanku. Bau yang seperti menyibakkan rahasia puluhan tahun. Mungkin tidak selama itu, tapi rasanya selama itu.

Kata-kata yang baru dibaca dalam benak telah menguakkan kembali ingatan masa lalu yang sebenarnya sudah amat dalam terkubur dalam tengiknya tanah. Sebuah kesalahan yang menjadikan aku seperti aku sekarang. Sebuah rasa yang mendalam, sakit hati dan kegetiran hidup. Perasaan sebagai orang yang terbuang dan tidak mempunyai cinta atau bahkan jika hanya untuk menjalani hidup dengan bahagia. Sakit hati yang sampai tadi belum ada obatnya. Mencekam, mengambil hampir seluruh kebahagiaan diriku. Itulah terakhir kali aku bersama dengan masa laluku.

Pengalaman sekali dengan seseorang yang dulu amat kucintai. Kehadirannya seperti pesona bunga teratai di tengah-tengah kolam. Memberikan sepercik sinar-sinar harapan kepada duniaku yang kering. Seseorang yang menjadikanku bahagia apa adanya diriku.

Satu hari dia pergi. Menghancurkan mata kalung hubungan yang telah kami jalin. Semuanya porak poranda. Hari itu seperti hari yang penuh hujan deras, petir-petir menyambar, dan aku basah di tengah derasnya tetes-tetes hujan itu. Saat kau berada di titik terendah dalam hidupmu. Saat kekecewaan menjadi kolam renangmu. Saat amarah dan tangisan mengalir dari hulu jiwamu. Kecewa, terkhianati, dan sendiri. Saat kau ingin sekali bunuh diri.

Begitulah. Dia pergi, meninggalkan setengah cinta dan setengah benci. Meninggalkan setengah kenangan dan setengah dendam. Tidak demi satu pun alasan. Pahit hati yang bertahun-tahun membekas, bertahun-tahun pula tidak pernah pudar walaupun sering kubilas dengan air mata kekecewaan. Sejak saat itu, aku tidak percaya cinta sejati. Bagiku, setiap hubungan tidak lebih daripada seks dan permainan. Begitulah aku menjadi seperti apa aku sekarang.

Tapi, bukankah ada saatnya juga kau menyerah oleh karena cinta? Bukankah memang ada saatnya cinta mencuri tempat di hatimu? Bukankah memang ada saat-saatnya kau merasakan mana sejati dan mana yang palsu? Bukankah akhirnya kau rindu juga hidup berdua? Bukankah kau akan merasa membutuhkan; membutuhkan dia: sang pujaan hati. Dan beribu “bukankah” lainnya yang akan menuntunmu membuka pintu hati.

Itulah keindahan yang terasa ketika benar-benar jatuh cinta. Keelokan dari sebuah jumpa pertama. Bukankah memang ada saatnya kau merasakan semua itu: deja vu?

Begitulah. Hati ini lalu menjadi berat. Raga menjadi begitu lemah. Jiwa besarku ingin bangkit, tapi masih terhimpit egoisme pribadi yang begitu berat. Dan segala ketakutan membuat segalanya menjadi semakin tidak sederhana. Ini rumit. Sungguh rumit.

 

Tantra… demi malaikat-malaikat penjaga surga, jawablah, kenapa kamu menemui aku?

 

Semuanya terjadi begitu sederhana. Aku dan dia; kami bertemu. Semudah itu. Kadang pertemuan memang tidak membutuhkan ornamen yang indah-indah untuk melengkapinya. Kadang kamu cuma perlu membiarkan semesta bertindak. Bebaskan segalanya, biarkan semesta menari dan melukis di kanvasnya. Pertemuan singkat atau pun panjang, bagaimanapun itu terjadi, pertemuan adalah pertemuan. Dan seperti halnya tidak semua pertemuan luar biasa berlanjut luar biasa, demikian juga pertemuan-pertemuan biasa tidak selalu berlanjut biasa-biasa saja.

 

Hatiku terombang-ambing, Tantra. Hatiku menjerit. Dia ingin memeluk raga dan hatimu. Menjadikan perasaanmu sepadan dengan perasaanku. Menempelkan dua dimensi kehidupan kita yang berbeda. Meleburkan hasrat dan cita-cita aku dan kamu. Menjadi satu. Satu.

 

Tantra, peluklah aku terus sebab aku mulai mencintai kamu.

Peluklah Aku Sebab Aku Mulai Mencintaimu