Kisah Klasik Seorang Pawang Cinta

Aku lihat dia berdiri di sana. Dengan muka yang sinarnya memudar, dia seperti mengundangku untuk menghampirinya, tapi apakah iya harus aku dekati? Aku sudah terlalu sering mengalami sakit hati. Menaruh harapan pada orang-orang yang pada akhirnya meninggalkanku atau tidak pernah percaya kepadaku. Rasanya aku terlalu lelah dan aku bisa-bisa hancur kalau kali ini berakhir demikian juga.

Empat bulan yang lalu aku masih berjalan bersama dia, seseorang yang dulu amat kucinta dan sungguh-sungguh kujaga, tapi suatu waktu aku terjatuh oleh sebuah ucapannya, lalu dia berkata bahwa dia tidak bisa membantuku berdiri lagi. Begitulah lalu kulihat dia berjalan meninggalkan aku yang sedang berusaha berdiri untuk kembali mengejar dia. Belum sempat kukejar, dia sudah hilang dari pandanganku. Entah ke mana.

Dalam hancurku, aku akhirnya mampu kembali berdiri dan berjalan. Berjalan aku tak tahu harus ke mana, tapi aku tahu aku harus berjalan. Aku tidak bisa tetap di situ. Perjalanan sudah tidak menyenangkan lagi, maka aku harus beranjak menemukan tempatku berteduh. Aku haus dan aku harus terus berjalan, begitu pikirku.

Setelah berjalan cukup lama, di kejauhan aku melihat seseorang yang berjalan dengan letihnya juga. Mataku berbinar-binar, aku ingin kejar. Maka, kukejarlah dia. Kupanggil-panggil dia, dan dia menoleh. Kami lalu bertukar cerita, perjalanan ini menjadi tidak sepi lagi. Aku bisa tersenyum lagi. Lalu, mulai kuajak dia untuk berjalan lebih cepat. Aku ingin kita lari ke depan sana, tampaknya melihat sunset di pantai sana pastilah indah. Sebelum sunset tiba, sungguh kuingin cepat sampai di sana karena aku merasa sudah terlalu lama aku di jalan ini. Tapi dia seperti ragu. Baginya, sunset itu belum sebanding dengan sunrise yang pagi ini dia lihat di tempat dia sebelumnya berada. Dia masih mengingankan melihat sunrise itu walaupun kami sama-sama tahu bahwa sunrise sudah lewat, dia sudah hilang, dan tak akan kembali sampai waktu yang lama.

Terik matahari makin terasa menjelang tengah hari. Tapi perjalanan kami menjadi nyaman, setidaknya demikian kurasa karena setidaknya aku mempunyai teman ngobrol. Detik-detik, menit-menit, dan lalu 1 jam pun berlalu. Kami semakin dekat, tapi aku tahu kami tak mempunyai tujuan yang sama. Aku ingin melihat sunset itu, dia masih berpikir bahwa sunrise tidak akan tergantikan keindahannya oleh sang sunset.

Aku mulai letih karena dalam hatiku, aku ingin sekali melihat sunset. Aku harus melihatnya. Aku ingin perjalananku ini ditutup dengan sesuatu yang memberikanku ketenangan, setidaknya sebelum malam akhirnya tiba nanti. Aku mulai letih, aku ingin melihat sunset. Maka, pada suatu titik aku memutuskan untuk mempercepat langkahku. Seandainya saja dia berkata, “Tunggu aku,” tentu saja aku akan menunggu, tapi aku tidak melihat sebuah kegusaran pada dirinya. Dalam hatinya, aku tahu dia tetap merindukan sunrise. Jadi, aku pergi. Aku berjalan lebih cepat.

Menit-menit berlalu, jam-jam berlalu. Sunset sudah semakin dekat, tapi aku bahkan baru tersadar bahwa aku sama sekali tidak tahu jalan menuju pantai. Aku buta. Aku hilang arah. Hampir hilang asaku hingga di suatu perempatan jalan aku bertemu dengan kamu. Ya, kamu.

—————

Hampir setengah tahun aku kehilangan dirinya. Dan malam ini lagi-lagi aku hanya berusaha untuk melewati satu malam lagi. Setidaknya, esok pagi aku bisa melihat hari bersinar cerah lagi dan aku bisa melupakan semua kegelisahanku. Di sini lah aku, dengan sinar wajahku yang sepertinya memudar. Akankah ada seseorang yang akan menyadarinya? Ah, tidak akan, pikirku, jangan berkhayal.

Ketika aku terjatuh di perjalanan kemarin, aku hanya ingin bangkit lagi. Tapi, memang rasanya sakit sekali dibiarkan terjatuh, tidak ditolong untuk bangkit, malahan ditinggalkan. Bagaimanapun, aku orang yang tegar. Aku kuat. Aku kuat. Aku berjalan dan berjalan. Melanjutkan perjalananku dengan kedua kakiku yang aku yakin, kuat. Tidak terasa ketika aku mendekati sang siang, aku pun haus dan letih. Hampir aku menyerah, sampai aku melihat seseorang yang sedang berjalan di depanku. Kuberanikan diriku bertanya, “Mau ke mana?”

Jawabnya, “Aku sebenarnya tidak tahu mau ke mana. Aku hanya berusaha terus berjalan.” Ah, pikirku, aku pun demikian. Aku hanya ingin berjalan dan semoga di depan sana ada sebuah tempat peristirahatan di mana aku bisa berteduh dan bertukar cerita dengan seseorang. “Boleh aku menemani?” tanyaku. Dia pun mengangguk.

Kami lalu bersenda-gurau. Aku bisa tertawa lagi dan aku merasakan sesuatu yang sedari pagi tidak kurasakan: kesejukan. Padahal matahari bersinar percaya diri siang ini, tapi aku merasa tidak apa-apa. Lalu, kukatakan padanya, “Mari kita cari kedai untuk sekedar kita duduk-duduk dan bercerita.” Dia mengangguk. Sepertinya dia hanya iya-iya saja, tidak kurasakan binar-binar semangat di dalam matanya. Tapi, tak apa, toh dia tidak menolak juga kan. Aku orang yang optimis dan aku yakin dengan semangatku ini bahwa setiap orang itu baik dan selayaknya aku perlakukan setiap orang demikian. Setiap orang baik. Setiap orang baik.

Namun, hati memang sedalam samudera. Dalamnya tidak ada yang tahu. Kerinduannya tidak ada yang mengerti. Maka, setiap kali aku meledak-ledak dalam semangat dan harapanku untuk menemukan tempat beristirahat di depan sana dan dia hanya mengangguk, hati ini mulailah retak. Lama-lama, pikirku, ke mana semangatmu, Bung? Apakah ini semua hanya keinginanku saja, dan bukan keinginanmu juga? Aku mulai merasa kami tidak sepadan dan tidak sejalan. Yang pasti, kami memang tidak seirama. Dentuman langkah kami berbeda dan aku tidak sanggup lagi berjalan perlahan-lahan seperti ini. Aku haus, aku ingin istirahat. Aku butuh tempat berteduh. Aku butuh tempat berteduh.

Maka, mulailah kutinggalkan dia sedikit-sedikit. Kupercepat langkahku. Setelah beberapa lama, masih bisa kulihat dia di belakang, namun sosok dirinya makin mengecil dalam pandanganku. Aku terus berjalan sambil memandanginya menjauh. Aku terus berjalan sambil melihatnya menghilang di ujung sana. Aku lalu menoleh ke depan lagi ketika tiba-tiba aku hampir bertabrakan dengan kamu. Ya, kamu.

“Hai, kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu sedang memikirkan banyak hal. Mau cerita?” demikian sapaanmu. “Jangan di sini ya? Lebih enak kalau sambil jalan ke depan.” jawabku. Kamu pun berkata, “Ayo!” Hei, siapa ini, tampaknya bersemangat sekali. Aku pun tersenyum.

—————

Hari menjelang sore, sunset semakin dekat, tempat peristirahatan tak kunjung terlihat, tapi mereka tetap berjalan bersama. Mereka tertawa dan tertawa dan tertawa. Tak terasa, sore pun terlewati. Pantai tidak ketemu dan belum satu pun tempat istirahat dijumpai. Tapi, mereka tetap tertawa dan tertawa dan tertawa. Padahal, sudah kudatangkan malam yang gelap kali ini.

“Hei, coba kau tunjuk satu bintang,” ujar salah seorang. Yang lain berkata, “Sebagai pedoman langkah kita?” Mereka lalu tersenyum. Malam itu gelap dan dingin karena aku menginginkannya demikian, tapi mereka tidak peduli. Mereka sudah tertawa terlalu banyak. Kegelapan dan rasa dingin bukan lagi masalah. Yang mereka rasakan malam itu adalah misteri ketika mereka pandangi langit hitam yang luas terbentang di atas mereka. Misteri mengapa mereka bertemu.

Sesungguhnya, mereka tahu, tapi aku akan selalu memberikan pertanyaan itu di benak mereka. Bukan untuk mereka pertanyakan, tapi untuk mereka ingat berulang-ulang bahwa jawaban dari mengapa itu tidak penting. Yang penting adalah mereka bahagia.

Tapi, bolehkah kuberitahukan sedikit rahasiaku mengapa mereka bertemu? Tentunya alasan pertama adalah karena mereka sepadan dan sama-sama ingin berjuang. Mereka sering berdoa kepadaku dan meminta dipertemukan dengan seseorang yang bisa memahami semangat dan optimisme mereka. Aku rasa, tidak ada orang yang lebih pantas untuk kupertemukan dengan mereka selain mereka sendiri.

Tapi, alasan utamaku adalah karena aku yakin bahwa ini akan membuat keduanya bahagia. Inilah kisah klasikku. Ah, aku mencintai pekerjaanku.

Advertisements
Kisah Klasik Seorang Pawang Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s