Peluklah Aku Sebab Aku Mulai Mencintaimu

Sebuah buku boleh kelihatan usang, tapi isinya bisa saja tidak usang. Aku seakan-akan sedang mengunjungi lagi masa laluku seiring dibukanya halaman-halaman kekuningan itu. Bau kertas-kertas tua menyelinap ke penciumanku. Bau yang seperti menyibakkan rahasia puluhan tahun. Mungkin tidak selama itu, tapi rasanya selama itu.

Kata-kata yang baru dibaca dalam benak telah menguakkan kembali ingatan masa lalu yang sebenarnya sudah amat dalam terkubur dalam tengiknya tanah. Sebuah kesalahan yang menjadikan aku seperti aku sekarang. Sebuah rasa yang mendalam, sakit hati dan kegetiran hidup. Perasaan sebagai orang yang terbuang dan tidak mempunyai cinta atau bahkan jika hanya untuk menjalani hidup dengan bahagia. Sakit hati yang sampai tadi belum ada obatnya. Mencekam, mengambil hampir seluruh kebahagiaan diriku. Itulah terakhir kali aku bersama dengan masa laluku.

Pengalaman sekali dengan seseorang yang dulu amat kucintai. Kehadirannya seperti pesona bunga teratai di tengah-tengah kolam. Memberikan sepercik sinar-sinar harapan kepada duniaku yang kering. Seseorang yang menjadikanku bahagia apa adanya diriku.

Satu hari dia pergi. Menghancurkan mata kalung hubungan yang telah kami jalin. Semuanya porak poranda. Hari itu seperti hari yang penuh hujan deras, petir-petir menyambar, dan aku basah di tengah derasnya tetes-tetes hujan itu. Saat kau berada di titik terendah dalam hidupmu. Saat kekecewaan menjadi kolam renangmu. Saat amarah dan tangisan mengalir dari hulu jiwamu. Kecewa, terkhianati, dan sendiri. Saat kau ingin sekali bunuh diri.

Begitulah. Dia pergi, meninggalkan setengah cinta dan setengah benci. Meninggalkan setengah kenangan dan setengah dendam. Tidak demi satu pun alasan. Pahit hati yang bertahun-tahun membekas, bertahun-tahun pula tidak pernah pudar walaupun sering kubilas dengan air mata kekecewaan. Sejak saat itu, aku tidak percaya cinta sejati. Bagiku, setiap hubungan tidak lebih daripada seks dan permainan. Begitulah aku menjadi seperti apa aku sekarang.

Tapi, bukankah ada saatnya juga kau menyerah oleh karena cinta? Bukankah memang ada saatnya cinta mencuri tempat di hatimu? Bukankah memang ada saat-saatnya kau merasakan mana sejati dan mana yang palsu? Bukankah akhirnya kau rindu juga hidup berdua? Bukankah kau akan merasa membutuhkan; membutuhkan dia: sang pujaan hati. Dan beribu “bukankah” lainnya yang akan menuntunmu membuka pintu hati.

Itulah keindahan yang terasa ketika benar-benar jatuh cinta. Keelokan dari sebuah jumpa pertama. Bukankah memang ada saatnya kau merasakan semua itu: deja vu?

Begitulah. Hati ini lalu menjadi berat. Raga menjadi begitu lemah. Jiwa besarku ingin bangkit, tapi masih terhimpit egoisme pribadi yang begitu berat. Dan segala ketakutan membuat segalanya menjadi semakin tidak sederhana. Ini rumit. Sungguh rumit.

 

Tantra… demi malaikat-malaikat penjaga surga, jawablah, kenapa kamu menemui aku?

 

Semuanya terjadi begitu sederhana. Aku dan dia; kami bertemu. Semudah itu. Kadang pertemuan memang tidak membutuhkan ornamen yang indah-indah untuk melengkapinya. Kadang kamu cuma perlu membiarkan semesta bertindak. Bebaskan segalanya, biarkan semesta menari dan melukis di kanvasnya. Pertemuan singkat atau pun panjang, bagaimanapun itu terjadi, pertemuan adalah pertemuan. Dan seperti halnya tidak semua pertemuan luar biasa berlanjut luar biasa, demikian juga pertemuan-pertemuan biasa tidak selalu berlanjut biasa-biasa saja.

 

Hatiku terombang-ambing, Tantra. Hatiku menjerit. Dia ingin memeluk raga dan hatimu. Menjadikan perasaanmu sepadan dengan perasaanku. Menempelkan dua dimensi kehidupan kita yang berbeda. Meleburkan hasrat dan cita-cita aku dan kamu. Menjadi satu. Satu.

 

Tantra, peluklah aku terus sebab aku mulai mencintai kamu.

Advertisements
Peluklah Aku Sebab Aku Mulai Mencintaimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s