Telanjang?

Beberapa orang menyukai telanjang dalam arti sesungguhnya. Ada kelompok orang yang mempraktekkan nudism dalam kesehariannya. Bisa di lingkup keluarga, lingkup teman-teman dengan preferensi yang sama, di hutan atau pantai, atau bahkan di ruang-ruang publik yang lebih ramai. Di Amerika Utara masih banyak tempat-tempat khusus yang memperbolehkan aktivitas semacam ini. Penasaran? Saya sih penasaran, lho. Jujur kadang-kadang kalau di tempat yang private banget, saya juga lebih suka bertelanjang ria. Lalu muter lagu-lagu hot & sexy, lalu joget-joget striptease sendirian. Seriusan?! Ya, gak lah. :))

Oke, cukup-cukup ngelanturnya. Walaupun praktek nudism itu ada seru-serunya, tetap sih itu bisa bikin masuk angin dan kedinginan, apalagi kalau di kamar kamu pasang kipas angin atau taruh suhu AC di 15 derajat. Eh, wait, ini masih ngelantur ya!

Singkat kata (ceritanya udah ga ngelantur sekarang), sifat orang itu beda-beda. Ada yang senang bertelanjang ria, ada yang ga peduli diliat bugil sama orang banyak, ada yang sukanya gosipin yang sukanya bugil-bugil itu, ada yang cuek-cuek aja sama apa pun pilihan orang lain. Yang tipe terakhir ini keren, yak!

Sebenarnya sih saya lagi ga mau ngebahas telanjang dalam arti sesungguhnya, tapi seru juga kan bahasan di atas? Jadi gini, sih, tadi saya gak sengaja baca quote ini:

“It’s easy to take off your clothes and have sex. People do it all the time. But opening up your soul to someone, letting them into your spirit, thoughts, fears, future, hopes, dreams… that is being naked.”

Quote-nya familiar sih, saya rasanya ingat pernah baca ini dulu-dulu. Lalu saya Googling deh, ternyata quote ini adalah bikinan Rob Bell. Menarik ya kata-katanya karena ketika membaca itu, yang terlintas di benak saya adalah memang sungguh lebih sulit untuk telanjang secara figuratif daripada telanjang dalam arti sesungguhnya. Orang-orang sudah tebal kok malunya belakangan ini, untuk sekedar buka baju dan telanjang, kadang bukan perkara sulit. Tapi, justru akhir-akhir ini orang dengan segala keinginannya untuk eksis, akan sebisa mungkin mengusahakan supaya dia tetap eksis, supaya namanya tidak tercemar, atau kalau perlu, gak tanggung untuk bikin pencitraan deh supaya kesannya dia modern, pintar, dan lain-lain, dan lain-lain. Ya ga? Saking pentingnya untuk mencitrakan diri supaya disukai banyak orang dan mempunyai banyak teman, makin susah pula rata-rata dari kita untuk terlihat telanjang secara batiniah.

Saya dari dulu punya satu cita-cita: ketemu soulmate saya! :)) Sejujurnya sih dengan sifat saya yang super pendiam dan pemalu, antisosial tingkat tinggi, dan semacamnya, sulitlah untuk saya menemukan seseorang yang sangat sepadan dan compatible dengan saya. Tapi, salah satu kriteria utama saya adalah saya ingin bertemu dengan seorang pria yang tidak takut untuk membuka diri, yang tidak takut untuk bercerita tentang masa lalunya, tentang harapan-harapannya, tentang cita dan cintanya, tentang kebodohannya, tentang keunggulannya. Kalau saya tiba-tiba bertemu pria seperti itu, pasti saya langsung kleper-kleper dan minta dia langsung nikahin saya (?). Bercanda, kok. Eh, setengah serius sih, tapi banyakan gak seriusnya. :p

Kalau saya buka profile di situs-situs perkencanan dan perkenalan, pasti saya selalu buka dengan kata-kata, “I love guys who are not afraid to open up about himself, who’s willing to talk about life, about his fears and his dreams.” Karena saya juga orangnya kan gloomy-romantic, saya kadang bicara terlalu banyak, terlalu naif. Apa-apa saya ceritain ke orang-orang. Gak percaya? Scroll lagi ke atas, ada kan saya cerita tentang saya suka bugil-bugilan di kamar? 😉

Saya merasa, at many points, saya orang yang terbuka dan berani ‘telanjang‘ di depan seseorang yang saya merasa sangat nyaman, dan at those points, saya merasa saya akan sepadan dengan seseorang yang mempunyai itikad serupa. Sungguh bikin ilfil adalah ketika baru berkenalan dengan orang baru, setelah lumayan akrab ya dan pembicaraan telah berkembang, dan telah tiba saatnya untuk memasuki info-info intim, lalu saya tanya pertanyaan sederhana, semisal, “Udah pacaran berapa kali?”, dan dijawabnya hanya dengan, “Banyak, lah.” Banyak itu berapa, Pak? Empat kata saya juga udah banyak, ada yang bilang dua itu udah banyak, dan ada juga yang versi banyaknya sepuluh, lho. Maksud saya nanya kayak begitu sih bukannya pengen tau aja. Tapi saya ingin lihat sudah sejauh mana sih chemistry-nya, apa dia cukup percaya saya untuk mulai bercerita tentang masa lalunya, atau justru dia merasa tertekan? Saya sih gak keberatan kalau dia merasa tertekan, tapi ya jangan keberatan juga kalau saya jadi tidak tertarik lagi karena merasa tingkat emosional kami berbeda.

Perbedaan itu gak masalah sebenarnya, hanya kalau untuk saya, ketika sudah tidak begitu cocok di awal, ketika yang seharusnya terjadi tidak terjadi, yang seharusnya ada sparks-sparks gimana gituu ternyata tidak ada, ya untuk apa dilanjutin juga. Sebaiknya dicukupkan saja, cukup jadi seorang teman atau kenalan.

Saya kadang bertanya ke diri saya sendiri, “Mike, loe sendiri udah sejauh mana terbuka di depan orang-orang?” Jawabannya: sama sekali belum jauh, baru berangkat malah. Tapi, kalau saat ini, entah dikirim dari surga mana, ada seorang malaikat yang menghampiri, lalu ikatan emosional kami terasa jauh melampaui semua mimpi dan harapan saya, saya bersedia untuk ‘telanjang‘ saat ini juga! Rela!

 

Advertisements
Telanjang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s