Hei, Kamu

Hei, kamu, yang sering tiba-tiba menghilang dan nyuekin aku, kali ini caramu membalas pesan dan memperlakukanku sudah seperti layaknya aku ini penguntit yang penuh modus kriminal. Perlu kau tahu, aku tidak menguntitmu sebegitunya juga, lho. Aku tidak memahamimu sebesar itu juga, dan aku tidak mengerti alasan-alasan di balik tindakan-tindakanmu sebaik itu juga. Aku hanya berusaha menghargaimu sebagai seorang teman and a human being, menjagamu tanpa menjagamu karena aku tahu diri (bukan tak percaya diri – kalau kata Tulus), tapi sepertinya terkadang kamu lupa kalau di balik eksteriorku yang brewokan dan berbadan besar ini, di situ adalah seorang human being juga, just like you.

Dibilang marah, iya. Dibilang kecewa, pasti. Dibilang sabar, masih perlu ditanyakan kah?

Aku tahu, tidak selamanya kamu memperlakukanku begini. Aku tahu, dalam banyak kesempatan kamu memperlakukanku baik dan apa adanya. Tapi kamu perlu juga tahu, ketika kamu sedang merasa tidak ingin memperlakukanku demikian, cukuplah kamu ucapkan, “Jangan sekarang,” atau “tunggu.” Aku kira kamu  seseorang yang lebih terbuka daripada ini.

Kadang aku berpikir, adakah salah aku ke kamu? Adakah gue membuat loe terdesak pisan sehingga loe bete dan memutuskan untuk nyuekin gue? Jika ada, maafkan gue karena apparently gue hanyalah seorang manusia biasa yang kadang-kadang berharap dan kadang-kadang kecewa. Bukankah setiap kita pernah begitu?

Hei, kamu, jika memang salah gue menunggu apa yang pernah kamu ucapkan ke gue dalam suatu voice note 4 menitan itu, katakanlah. Sebab aku bukan pembaca pikiranmu. Sebab yang kutahu, hatiku perintahkanku untuk menunggu, ragaku perintahkanku untuk henti sejenak, dan pikiranku berkata, “Hati-hati.” Sebab yang kutahu pasti, aku bahkan tidak tahu harus mengikuti kata-kata yang mana.

Sebutlah aku tidak sabaran. Sebutlah aku sentimental. Sebutlah aku cengeng. Tapi ketika kamu merasakan semua itu, benarkah itu semua mudah? Jika diam adalah bagian dari mekanisme pertahananmu, maka menulis adalah caraku. Maklumilah.

Kadang kata-kata darimu setelah kamu “stop dari menghilang” membuatku ingin protes.

“Baru ditinggal dua hari, udah galau.”

“Jadi siapa yang bisa bikin tersenyum semalaman itu?”

 

STOP. TEASING. ME. LIKE. THAT. LIKE. I’M. NOT. SERIOUS.

I’m not here to be teased by you. And you don’t know for sure how hard it was for me to wait, and wait, and wait, and.. wait again. It’s not that I don’t want to fly there. It’s just that I know there are still a lot of stuffs going on in and with your life. And I know that I want you to fix them first. At least, I want you to be wanting to fix them first. Do you?

If this feels like a rage, it is. I’m not a saint!

Ada beberapa hal yang gue lakukan supaya gue mempunyai lebih banyak waktu dengan kamu. Yes, I admit it. It’s not that I’m not sincere. It’s not that I’m “cuma modus”. But, that’s because I care about you and about what you asked. And I want to try anything that could possibly get me into knowing you more. That is all. I hope you know that.

If this still feels like a rage, to be honest, not anymore. I’m done writing this stuff.

A conclusion? Well, conclusions are overrated. Let it be open and ambiguous.

Advertisements
Hei, Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s